Selamat pagi bapak mentri atau presiden. Mungkin pejabat pemerintah. Atau pak jendral dan pak polisi. Boleh jadi pegawai negeri. Bisa jadi sopir metromini. Boleh juga petani dan nelayan. Ah, siapa saja boleh.
Surat ini berhubungan dengan teman teman ku, yang kalian bilang kaum miskin dan terbelakang. Mereka yang hanya menjadi penonton di era globalisasi dan pembangunan ini. Maaf, tapi tidak bisa disebutkan satu satu. Mungkin butuh beberapa ribu lembar halaman untuk menuliskan nama nama mereka yang terlanjur banyak dan nyaris tak terhitung. Lagipula siapa peduli dengan angka.
Yang saya ingin sampaikan adalah, mereka itu nyata. Bukan perhitungan angka yang terlanjur banyak dikorupsi. Mereka bukan hanya hitung hitungan sensus penduduk, mereka nyata. Hidup di sekeliling kita. Mengetuk kaca mobil kita, mencari nafkah dari koin koin yang tak sengaja terjatuh dan tidak dipedulikan. Dipanggang terik sinar matahari ketika siang dan disengat udara dingin kala malam.
Anda tidak lagi bias berpura pura tak peduli bapak bapak atau mungkin ibu ibu sekalian.Mereka yang dimiskinkan oleh pemerintah nya ini akan semakin bertambah.Bukan maksud saya menakut nakuti tapi inilah faktanya.
Kiranya surat yang biasa ini bisa menyampaikan keadaan lingkungan yang saya lihat sehari hari. Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar