Minggu, 10 April 2011

Impian

Banyak anak anak jalanan yang terpaksa mengubur impian impian mereka karena berbagai macam alasan. Masalah keuangan, dukungan orangtua, lingkungan sekitar, dan masih banyak hal yang membuat anak anak kehilangan impian. Padahal,  mimpi lah yang membuat hidup kita terasa berharga untuk diperjuangkan. Hal ini yang mau saya lakukan kelak. Saya akan mencoba memberi impian pada mereka. Mereka juga harus merasakan apa yang seharusnya anak anak sebaya mereka rasakan. Bukan salah mereka kan kalo mereka miskin dan hidup di jalanan?

Maka dari itu, saya harus berusaha sekeras kerasnya untuk menempa diri agar kelak dapat membimbing generasi muda yang kurang beruntung untuk kembali medapatkan impian yang mereka pendam. Semua warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan kan? Ya, dan itulah yang akan saya usahakan. Meskipun mungkin tidak semua generasi muda dapat merasakan pendidikan.

Saya juga punya impian. Kelak, saya akan membangun sekolah musik yang gratis bagi para pengamen jalanan. Saya akan melakukan hal hal yang dianggap orang lain "buang buang waktu dan uang". Saya akan membuat sekolah gratis untuk anak anak jalanan. Memberikan mereka kesempatan untuk kembali menjadi "anak anak" yang sesungguhnya. Amin.

Sabtu, 09 April 2011

Karena rakyat dibiarkan berjuang sendiri


Semalam aku lihat maut mengintai
Di bawah kolong jembatan, rumah bagi yang tak berpunya
Maut mengintai perlahan memandangi mata yang lelah
Mata mereka berdua beradu pandang, lalu si anak berbisik :

"Bolehkah aku menemui ibuku sebentar? Aku tahu ibu tidak memperbolehkan ku pulang sebelum membawa uang, tapi aku ingin melihat ibu ku untuk yang terakhir kalinya"


Sang maut menggelengkan kepala
Mirip seperti eksekutor yang tak punya hati nurani
Nyaris tanpa harapan, si anak mengaduh sendiri
Namun orang orang di sekitarnya tak ambil peduli


Semalam juga aku lihat maut melintas
Diantara rumah rumah kumuh yang tertiup angin
Seorangbayi kecil kurang gizi menangis
Karena ia melihat sang maut mondar mandir
Amboi! Si bayi tersenyum, rupanya ia menangis bahagia
Karena terbebas dari jerat dunia yang memuakkan
Sang ibu tergeletak disamping nya dengan segelas racun
Sementara sang ayah pergi mencari nafkah yang tertahan
Di kantong mereka yang berjas dan berdasi



Tapi bahkan di negeri yang sederhana ini
Gedung bertingkat dibangun, mobil mewah menjadi rebutan
Yang kaya makin kaya, yang miskin pun selamanya miskin
Tak ubahnya kanibal yang memangsa sesama saudara

Di hari yang kelam ini
Sang maut sepertinya harus lembur
Karena wakil wakil rakyat makin tidak peduli
Karena rakyat dibiarkan berjuang sendiri

Sabtu, 02 April 2011

Recomended Film for Everyone

Ruma Maida, Kala Sejarah Menggugat

November 06, 2009
Junanto Herdiawan
Saksikanlah film Ruma Maida. Film ini sungguh berani tampil di tengah dominasi film Indonesia yang sarat esek-esek dan kisah horor. Film ini melawan arus. Menarik, walau mungkin bukan mainstream. Film Ruma Maida bercerita tentang sejarah. Bukan sejarah sebagai catatan-catatan peristiwa atau tanggal (seperti yang kita pelajari pada bangku sekolah di Indonesia), tapi sejarah sebagai sebuah makna. Sebuah catatan akan realitas yang terus bergerak dan layak dipahami dengan baik.
Sejarah adalah kata yang “kering” di mata dunia pendidikan kita saat ini. Isinya melulu tentang tanggal dan hafalan tanpa makna. Ruma Maida mengingatkan kita akan keterlenaan bangsa ini dalam melihat sejarah. Di sini, kita mengenang ungkapan Milan Kundera, sastrawan Ceko, pemenang Nobel Kesusastraan. Ia berkata,”Langkah pertama untuk memusnahkan suatu bangsa cukup dengan menghapuskan memorinya. Hancurkan buku-bukunya, kebudayaannya dan sejarahnya, maka tak lama setelah itu, bangsa tersebut akan mulai melupakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa lampau. Dunia sekelilingnya bahkan akan melupakannya lebih cepat”.
Kalimat Kundera ini saya renungkan berulang-ulang dan masih relevan dengan kondisi dan carut marut bangsa kita saat ini. Kita memang tak pernah belajar sejarah. Kita hanya menghafal sejarah. Lantas bagaimana sebuah sejarah dapat dituliskan kembali dan dikenang oleh generasi muda? Ruma Maida mencoba menuliskannya, tanpa harus terlihat mengajari. Film ini disutradarai oleh Teddy Soeriaatmadja dan naskahnya disusun oleh novelis Ayu Utami. Sebagaimana layaknya novel Ayu Utami, kisahnya penuh plot, flashback, dan maju mundur. Buat beberapa orang mungkin akan terlihat datar dan membosankan. Namun Teddy mampu menghadirkan gambar yang pas di film ini. Untuk kisah-kisah di masa lampau, pewarnaan sephia muncul dan terlihat lembut. Begitu cerita kembali ke masa kini, warna film dibuatnya lebih natural. Kesemuanya disusun artistik dan indah dirasa.
Ruma Maida bercerita tentang Maida (Atikah Siholan), seorang mahasiswi yang idealis. Maida diceritakan mengelola sekolah bagi anak jalanan di sebuah rumah tua yang terbengkalai. Pada suatu hari, seorang pengusaha bernama Dasaad Muchlisin (Frans Tumbuan) meng-klaim rumah itu dan hendak mengubahnya menjadi pusat bisnis. Dasaad adalah seorang rasionalis ekstrem yang menegasikan sejarah. Ia tak mau hidup di masa lampau. Hidup adalah masa kini dan ke depan. Persetan dengan sejarah. Akhirnya, Maida dan anak-anak jalanannya harus terusir dari rumah itu. Maida tentu tidak menerima begitu saja. Ia berjuang keras untuk mempertahankan rumah tersebut. Dan dalam perjuangan itu, Maida menemukan banyak cerita serta sejarah dari rumah tua itu.
Dari lompatan-lompatan cerita tersebut pulalah, kita melihat sebuah benang merah. Ada tiga hal yang dapat dijadikan permenungan dari film ini. Pertama, pentingnya pendidikan. Ruma Maida membawa cerita tentang pertarungan filosofis antara Soekarno dengan semangat Nation Buildingnya, dan Hatta yang ingin mengedepankan pendidikan sebagai strategi pembangunan bangsa Indonesia yang masih muda. Saat itu, pertarungan filosofis dimenangkan oleh Soekarno. Namun kini, pemikiran Hatta menjadi penting dan relevan. Pendidikan adalah modal dasar dalam sebuah pembangunan. Dan kita, jauh tertinggal dengan negeri tetangga.
Keroncong Tenggara
Keroncong Tenggara
Hal kedua, pentingnya sejarah sebagai sebuah catatan yang membawa makna. Hal ini terefleksikan dalam garapan skripsi Maida yang mengangkat kisah sejarah yang hidup dan bergerak. Ia menulis kehidupan pemilik rumah tua yang ditinggalinya. Kata-kata Maida di penutup film, menirukan Bung Karno, JAS MERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah, adalah sebuah ajakan untuk mengenal dan menyelami sejarah. Bukan menghafal.
Ketiga, film ini juga mengangkat sedikit pemahaman terhadap kekayaan architectural heritage bangsa kita. Ruma Maida mencoba untuk menyindir perilaku rakus dan serakah dari pemilik modal yang kerap menghancurkan bangunan tua demi kepentingan bisnis. Kota Bandung, Medan, Malang, Semarang, adalah kota-kota tua yang memiliki kekayaan arsitektur dan berisikan eksperimen para arsitek seperti Amsterdam School yang terkenal dengan Art Deconya. Tapi bangunan itu banyak yang dihancurkan demi kepentingan bisnis. Sungguh disayangkan. Kebiadaban pemodal itu mirip dengan perilaku Dasaad Muchlisin di film ini.
Film ini layak ditonton bagi anda yang menganggap dirinya beradab dan menghargai sejarah. Iringan soundtrack dari band Naif menambah syahdu cerita. Melalui aransemen ulang lagu-lagu seperti “Juwita malam”, “Di Bawah Sinar Bulan Purnama”, dan “Ibu Pertiwi”, plus satu lagu “Keroncong Tenggara” yang diciptakan Ayu Utami, film ini bertambah ciamik untuk ditonton.
Akhirnya pelajaran yang dapat dipetik dari sejarah adalah bahwa masa lalu memang penuh kontestasi, dan kebenaran bisa jadi sekedar bangunan yang didirikan di atas perspektif dan motif-motif. Sejarah penuh misteri. Kebenaran kerap rapuh. Tapi mengenal sejarah, sangatlah penting. Seperti kata Gunter Grass dalam novelnya, The Crabwalk, saat kita melangkah mundur untuk mencari tahu tentang masa lalu, sesungguhnya kita sedang melangkah ke depan dan menafsirkan masa lalu itu dari perspektif kekinian. Ibarat jalan seekor kepiting. Dan di Ruma Maida, kepiting itu berjalan mundur untuk bergerak maju.

Sabtu, 26 Maret 2011

Bersama mu kita lupakan sedih

Bersama mu kita tertawakan derita di hati
Mereka tak akan mengerti, mari menari
Mereka tak akan mengerti, mari bernyanyi
Hingga sedih pun tak mau datang lagi
Jangan biarkan sedih mu butakan mata hati
Kami masih ada di samping mu
Bersama, tak perlu ada duka disini
Kita tertawakan duka, tak usah pedulikan mereka
Yang tak akan pernah mengerti pedih nya luka

Kobarkan api harapan, lanjutkan perjuangan
Mari kembali mengejar mimpi, simpan sedih mu nanti
Suatu petang nanti kita akan menangis bersama


Kamis, 17 Maret 2011

My next destination



SKW
 : 
Rancabuaya
Kecamatan
 : 
Caringin
Jenis Wisata
 : 
Alam
Daya Tarik
 : 
Pantai

Lingkungan Alam Fisik

Pantai Rancabuaya memiliki ketinggian 0-200 m di atas permukaan laut, curah hujan sebesar 1.200 mm/tahun dengan penyinaran matahari yang sedang dan kekuatan tiupan angin kecil. Perairan pantai berwarna biru, bau air normal, dan temperatur normal. Tinggi gelombang rata-rata kurang dari 1 meter, dan material dasar laut berupa pasir halus, batu karang, dan pas ir kasar termasuk daerah sepanjang garis pantai. Kemiringan laut landai, serta ditumbuhi rumput laut dan gang gang hijau sebagai flora laut dominan. Sedangkan fauna laut dominannya adalah ikan tuna dan ikan karang.


Daerah pesisir pantai yang landai ini memiliki material berupa pasir halus putih bersih, dengan panjang 1.000-2.000 dan lebar 100-200 m, serta tingkat abrasi yang kecil, sehingga stabilitas pantainya eukup baik. Flora dominan yang berada di tepi pantai adalah pohon kelapa dan pohon ketapang. Pantai Rancabuaya memiliki kualitas lingkungan dan kebersihan yang baik, dan hampir tidak terdapat berbagai bentuk pencemaran. Pantai ini memiliki visabilitas bebas dengan tingkat kebisingan yang rendah.

Secara administrative, di sebelah utara Rancabuaya berbatasan dengan
Desa Caringin, di sebelah barat dengan Samudra Hindia, sebelah selatan dengan Desa Indralayang, dan di sebelah timu, berbatasan dengan Desa Sinarjaya. Seeara alamiah, lingkungan alam yang menjadi batas pantai ini adalah lahan pertanian dan perkebuna!l di sebelah utara, Samudra Indonesia di sebelah barat dan timur, dan lahan pertanian di sebelah selatan.
Pantai Raneabuaya yang terletak di desa Purbayani Kecamatan Caringin ini memiliki luas 10 ha dengan luas kawasan keseluruhan sebesar 1.524 ha. Oari seluruh area tersebut yang telah dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas wisata sebesar : ? 2 ha.


 Sumber listrik di kecamatan ini yang berasal dari PLN dengan tegangan 220 volt dan distribusi yang baik, sedangkan sumber air bersih berasal dari Sungai Cihideung dan Sungai Cihrashas yang mempunyai kualitas air yang jemih, rasa air tawar, dan tidak berbau. Untuk sistem pembuangan limbah di kawasan pantai mempergunakan tempat sampah non-permanen yang tersebar di dalam area pantai. Sistem komunikasi di kawasan ini menggunakan telepon dengan jumlah yang memadai.
Ada 2 sifat kegiatan pariwisata yang dapat dilakukan oleh para wisatawan yang berkunjung ke objek wisata ini, yaitu yang bersifat aktif hiking dan tracking serta yang bersifat pasif yaitu menikmati pemandangan.
Status kepemilikan lahan area pantai Rancabuaya adalah 70% tanah milik dan sisanya adalah tanah desa, sedangkan pengelolaannya dilakukan oleh Kompepar (Kelompok penggerak pariwisata) yang anggotanya terdiri dari masyarakat setempat.

 

Aspek Khusus
Area pantai ini memiliki 22 buah villa milik mahasiswali dan dosen ITS, dan 4 buah penginapan dalam kondisi yang baik, 40 buah kios dengan kondisi baik, dan sebuah tempat parkir seluas 3 ha yang dapat menampung 100 bus, kondisinya masih dalam pembangunan dengan lapisan permukaan tanah dan vegetasi peneduh memadai.
Di pantai ini disediakan 2 buah tDilet umum yang dimiliki secara pribadi, dengan tingkat kebersihan/sanitasi cukup dan kondisi bangunan baik. tempat bilas 2 buah dengan kondisi dan tingkat kebersihan yang cukup, shelter (tempat berteduh) 2 buah dengan kondisi dan kebersihan yang cukup baik. Tidak jauh dari lokasi pantai terdapatpos kesehatan yang merupakan sarana kesehatan umum bagi masyarakat.
Pintu keluar-masuk yang berfungsi sebagai pos tiket ada 1 buah dengan kondisi cukup. Tiket masuk ke pantai yang dtentukan pengelola sebesar Rp. 1.000,-lorang.

 

Aksesibilitas
Alat tranportasi yang dapat digunakan untuk menuju ke pantai In. adalah 3 buah minibus (bus 3/4) trayek Rancabuaya-Garut yang frekuensinya terjadwal dan beroperasi antara pukul 04.30-08.00. Untuk transportasi ke kawasan, dapat juga mempergunakan angkot yang tidak terjadwal atau mempergunakan kendaraan angkutan desa yang disebut "paranggong" berupa mobil bak terbuka.
Jarak kawasan Rancabuaya dari Ibu kota Provinsi Jawa Sarat 167 km, dan jarak dari Ibu kota Kabupaten 105 km, dan jarak dari pusat pembantu Kecamatan (Caringin) 30 km. Akses menuju Pantai Rancabuaya berupa jalan raya kecamatan dengan lebar 6 m dan panjang 120 km, sedangkan akses di dalam kawasan atau menuju area pantai berupa jalan selebar 4 m dengan kondisi cukup baik.




Ketika aku beranjak tua

  • Ketika aku sudah tua, bukan lagi seperti semula mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.

  • Ketika aku berulang-ulang berkata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar bersabarlah mendengarkan jangan memutus pembicaraanku. Ketika kau kecil aku selalu harus mengulang cerita yang beribu kali kuceritakan agar kau tertidur.
  • Ketika aku memerlukan untuk memandikanku, jangan marah padaku.  Ingatlah sewaktu kau kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi.
  • Ketika aku tak paham teknologi dan hal-hal baru jangan mengejekku.  Pikirkan bagaimana dulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu.
  • Ketika aku tak dapat lagi berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.  Seperti aku memapahmu saat kau berjalan-jalan waktu masih kecil.
  • Ketika aku sewaktu melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.  Sebenarnya bagiku apa yang  dibicarakan tidaklah penting asalkan kau disamping dan mendengarkan aku sudah puas.
  • Ketika kau melihat aku yang mulai menua, mengertilah dan dukunglah aku, seperti aku menghadapimu ketika kau mulai belajar menjalani kehidupan.  Sekarang temani aku menjalani sisa kehidupanku.
  • Beri aku cinta dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur.  Dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.
Semoga anak-anakku masih bisa melihat tulisan ini ketika mereka dewasa dan aku sudah tua.
( Dari Seorang Teman) 

Sumber : http://notnegativethink.blogspot.com/2010/10/ketika-aku-sudah-tua.html

Saya benci pesta

Gue benci pesta. Segala jenis pesta, mengatasnamakan apapun, gue tetep benci pesta. Entah itu pesta pernikahan, pesta perayaan, pesta ulang tahun atau segala jenis pesta yang hanya khusus bagi orang orang yang diundang. Pesta yang gue maksud disini yaitu pesta yang menghabiskan banyak dana, walaupun mungkin mereka terlanjur berkecukupan dan tidak tahu bagaimana menghabiskan uang mereka.

Menurut gue, pesta adalah tempat dimana kesenjangan terlihat jelas namun sengaja ditutup tutupi. Sedangkan tamunya adalah orang orang sombong yang tidak peduli atau mungkin berusaha untuk tidak peduli dengan keadaan sekitar mereka yang serba kekurangan cenderung pas pasan. Kaum mengengah ke bawah pun seakan tidak mau kalah. Gaya hidup di kota yang cenderung konsumtif membuat orang orang berlomba lomba mengadakan pesta semewah mewahnya, dengan segala macam cara.

Di pesta, dimana orang berdansa dengan lagu lagu indah, sedangkan di angkutan umum pengamen bernyanyi sumbang mengharapkan rupiah dikejar oleh Satpol PP. Makanan terhampar dimana mana, sedangkan mereka yang kurang beruntung harus mengais ngais makanan di tempat sampah. Orang orang tertawa dan tersenyum, sementara banyak orang yang menangis sedih dan frustasi akibat harga bahan sandang makin melambung. Rakyat menengah ke bawah hanya akan menjadi penonton di setiap pesta tanpa pernah menikmati suasana pesta nya kaum menengah ke atas.

Yang paling gue benci adalah pesta perayaan sweet seventeen nya anak remaja zaman sekarang. Kalo diizinkan, gue akan teriak kepada mereka mereka yang apalagi sampai harus menghabiskan banyak uang orangtuanya untuk satu pesta yang menurut gue seharusnya tidak perlu secara bermewah mewahan, seperti kebanyakan anak muda yang gue amati. Gue akui, usia 17 tahun emang penting, bahkan terkadang di lebih lebihkan oleh kebanyakan orang. Kebiasaan ini yang harus nya bisa paling tidak dibuat lebih sederhana. Toh, tanpa perayaan ulang tahun pun usia kalian tetep akan tambah kan? Lagipula, pesta ulang tahun adalah kebiasaan barat yang ditularkan kepada negara di timur. Bahkan agama pun tidak menghendaki diadakan nya pesta ulang tahun, jika kalian masih peduli dengan agama.

Sesuatu yang baik tidak selalu perlu dirayakan dengan cara yang berlebihan. Menurut gue, pesta ideal adalah pesta yang gak usah pake undangan dan tidak menganggu sarana dan prasarana umum. Pesta dimana siapa saja boleh datang dan meramaikan, tidak hanya sebatas golongan. Pesta dimana membaurnya segala jenis ras, suku, agama dan tempat bertemunya antara miskin dan kaya sehingga tidak menimbulkan kesenjangan.