Senin, 21 Februari 2011

Diary of Resistances 3

Bimbang. Saya sampai dimana saya harus menentukan sikap, antara tetap menjadi seorang pemikir yang kritis terhadap permasalahan negeri ini atau hanya menjadi pengamat dan berusaha untuk tidak peduli lagi. Ternyata sistem yang diterapkan pemerintah kepada generasi muda (baca di posting sebelumnya) benar benar berhasil menumpulkan semangat untuk melawan sistem.

Saya merasa dicuci otak dan dipaksa untuk tunduk pada sistem yang berlaku. Kejar nilai setinggi tinggi nya, maka kelak akan berhasil. Rasanya cuma itu yang ingin ditanamkan sekolah kepada mindset di pikiran kita (siswa) bahwa menyibukkan diri dan menghabiskan waktu dengan belajar dan belajar adalah hal terbaik yang dapat dilakukan. Sementara kita dibutakan dengan apa yang telah terjadi di luar sekolah, yaitu di negeri ini.

Hal yang paling menyedihkan dari seorang pemikir adalah kehilangan rasa untuk mengkritisi segala sesuatu. Tanpa sikap kritis, kita tidak akan pernah menjadi lebih baik. Maka dari itu, inilah hal yang berusaha dihilangkan dari kita. Semangat perlawanan. Saya akan merindukan hari dimana kita bergerak bersama sama karena sebuah tuntutan yang mutlak, yaitu kesejahteraan rakyat. 

Sebuah satuan pergerakan yang kokoh tanpa ada saling menghianati dengan segala intrik politik yang najis. Hari dimana kita membawa kita hanya membawa satu bendera, yaitu bendera merah putih. Di hari dimana tekad dan tindakan berkolaborasi menciptakan Indonesia yang lebih baik, untuk mu, untuk ku dan untuk kita semua.

Jumat, 11 Februari 2011

Diary of resistances 2

Saya merasa gelisah. Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Ini bukan tentang standar nilai akademi yang harus dicapai, tapi tentang nasib nasib saudara saudara kita yang dimiskinkan oleh pemerintah. Hari ini, saya menonton sebuah film yang mungkin akan menginspirasi saya. Judulnya adalah rindu purnama. Menceritakan bagaimana lika liku kehidupan para anak anak jalanan dalam menghadapi kerasnya kehidupan yang mereka jalani. Benar benar film yang layak ditonton dewasa ini. Hal ini berbanding terbalik dengan acara acara televisi yang kian hancur moralnya. Benar benar ironi.

Sebenarnya hal yang paling saya risaukan sekarang ini adalah, kemana perginya kita sebagai generasi muda bangsa ini? Apakah cuma saya sendiri yang memikirkan nasib nasib kaum yang terpinggirkan? Belakangan ini saya sibuk mencari teman yang bisa diajak berjuang bersama untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Dan yang saya temukan adalah mereka yang masih saja membicarakan cinta yang lama lama menjadi sebuah cerita yang usang. Bukan nya saya sinis terhadap cinta. Karena masih banyak hal yang lebih penting dari sekedar cinta. Seharusnya kita malu kepada anak anak yang bahkan tak sempat merisaukan masalah yang kita hadapi. Malu. Sangat.

Yang mereka butuhkan bukanlah uang. Tetapi sesuatu yang mungkin akan mereka pergunakan untuk mencari uang. Ada pepatah yang mengatakan,

"Give a man a fish and you feed him for a day. Teach him how to fish and you feed him for a lifetime." - Lao Tzu

Menurut saya, pepatah ini mengandung kebenaran. Dan ini pula yang ingin saya berikan kepada mereka yang membutuhkan. Atau mungkin lebih tepatnya kepada generasi generasi muda selanjutnya, agar mereka juga punya kesempatan untuk membangun negeri ini. 




Rabu, 09 Februari 2011

Diary of resistances 1

Saya bukan lah orang yang terlalu patuh pada setiap peraturan yang mengekang kebebasan kita sebagai manusia. Akhir akhir ini, lembaga pendidikan yang mereka sebut sekolah sepertinya sudah menodai ideologi saya tersebut. Disiplin itu perlu, saya paham betul. Tapi bukan mengekang dengan bermacam peraturan. Guru bukan dewa. Begitu juga murid, mereka bukan kambing atau sapi yang harus dibentak dan dipukul untuk mengerti. Cara memberikan pengertian yang salah tidak akan menghasilkan hal yang baik untuk murid yang melakukan kesalahan.


Saya bukan anak yang malas. Tapi sepertinya guru hanya mau menilai dari apa yang tertulis di lembar jawaban, tanpa melihat bagaimana proses menemukan jawaban tersebut. Mereka menilai kita dari seberapa mampunya kita menyelesaikan soal. Tahu apa mereka tentang usaha murid yang mungkin telah berusaha, namun mereka nyatakan gagal dan dengan seenak nya mereka berikan predikat 'malas'.

Ini bukan keluh kesah seorang anak yang tak puas akan nilai. Ini realita yang terjadi di semua lembaga pendidikan dan dialami oleh semua murid. Toh pemerintah ingin kita mempelajari materi sebanyak banyak nya, agar waktu kita untuk berfikir menjadi berkurang. Bukan berfikir tentang materi sekolah tentu saja, tapi soal kehidupan. Kehidupan bukan hanya tentang mengerjakan soal, melainkan aplikasi teori dan banyak lagi hal yang dapat mendukung keberhasilan kita. Generasi muda dibebankan sebanyak banyak nya teori materi sekolah, agar mereka tidak sempat mengamati kehancuran politik negara kita. Kemampuan generasi muda berfikir kritis dipadamkan agar tidak terjadi demonstrasi demostrasi yang ingin menyuarakan keadilan.

Caranya adalah dengan melawan
Untuk hidup, kita harus melawan. Dunia menuntut kita untuk melawan agar tetap bisa bertahan di tengah milyaran orang yang berjuang untuk hidup. Agar kita bisa melawan mereka, haruslah kita punya sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak dimiliki semua orang. Kita harus menjadi seseorang yang berani melawan arus mainstream orang kebanyakan.

Saya bukanlah orang yang hebat dalam segi fisik. Maka, saya curahkan segala waktu dan tenaga saya untuk mengembangkan pikiran saya seluas luasnya. Satu satunya cara agar saya dapat melawan adalah dengan menulis. Hal yang paling penting dari menulis adalah ideologi. Saya habiskan waktu muda dengan menimbun diri dengan buku, menancapkan ideolgi saya agar kelak dapat membangun sebuah pemikiran dari fondasi tersebut. Memang untuk menjadi berbeda harus ada hal yang dikorbankan. Hal yang saya korbankan untuk membangun ideologi saya adalah waktu. Masa muda saya yang seharusnya dihabiskan dengan bermain dengan teman seumuran terpaksa dikorbankan. Tapi sesungguhnya saya tidak menyesal. Saya lakukan demi satu cita cita yang kadang ganggu tidur saya, yaitu tentang pemerataan pendidikan di seluruh indonesia. Dan kelak, pemerataan hidup layak.




Kenapa sekarang tidak ada demonstrasi beesar besaran seperti ketika Mei 1998? Kadang saya berfikir tentang kejadian tersebut. Banyak hal hal yang luar biasa menurut saya, yang telah hilang sekarang. Rasa solidaritas, rasa persatuan dan kesatuan sebagai anak bangsa dan masih banyak hal lagi yang menurut  saya tampaknya telah hilang. Hal ini tentu bukan tanpa sebab. Lagi lagi pemerintah memaikan peran nya dengan baik disini. Salah satu strategi yang mereka terapkan adalah dengan memberi kenyamanan seloggar mungkin kepada masyarakat kelas mengengah. Pemerintah melakukan hal tersebut karena kunci dari sebuah gerakan yang dapat menggerakkan mayoritas masyarakat adalah masyarakat kelas menengah. Jumlah masyarakat menengah kebawah di Indonesia sudah jadi mayoritas. Tapi mereka selalu mendapatkan diskriminasi dari pemerintah yang keputusan nya sering tidak memihak kepada mereka, malah cenderung merugikan mereka.


Sulit untuk mengharapkan masyarakat menengah ke bawah ini untuk melakukan suatu bpergerakan menentang kepemerintahan, karena -maaf- bukan seorang pemikir yang dapat mengkritisi setiap keputusan pemerintah. Yang mereka utamakan adalah bagaimana agar perut mereka dapat terisi. Itu wajar. Maka, jika masyarakat kelas menengah di nina bobokan oleh fasilitas fasilitas yang dirancang oleh pemerintah (yang cenderung tidak dapat dinikmati oleh masyarakat kelas menengah bawah), tidak akan ada sebuah gerakan revolusioner yang dapat menggerakkan rakyat kelas menegah ke bawah tersebut.

Senin, 07 Februari 2011

Menulis satu satu nya cara agar tetap waras

Agak ekstrim ya judul postingan ini? Tapi bener, buat gue menulis itu satu satunya cara agar gue tetap waras. Kenapa? Karena tanpa menulis, otak gue rasanya mampet dan ide ide yang kadang muncul tiba tiba itu terbuang percuma. Yah simple nya sih, supaya bisa ngeluarin unek unek yang gak bisa diceritain ke orang orang.

Menurut gue, generasi muda kayak kita kita ini harus berani menentang arus mainstream yang ternyata tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita. Contoh aja kebiasaan kebiasaan hedonis ala barat kayak nongkrong nongkrong di mall. Dan menurut gue, kita wajib berbeda. Salah satunya caranya ya, dengan menulis.


Ide ide perlawanan harus ditumbuhkan dan dijaga, jangan sampai hilang begitu saja. Sekarang mahasiswa kita cenderung di ninabobokan oleh keadaan. Tapi gue gak nyalahin mahasiswa disini, gue nyalahin sistem yang udah terlanjur berjalan di negeri kita ini. Sistem yang menumbuhkan semangat mencari hidup nyaman, dan menghilangkan rasa kepedulian sosial kita yang semakin redup. Tujuannya jelas, supaya gak ada generasi muda yang berpikiran kritis yang berani menentang keputusan pemerintah yang memberatkan orang pinggiran. Jadi gimana caranya supaya kita bisa mengembalikan rasa kritis? Ya dengan mengamati dan menulis.

Jadi mari membiasakan kebiasaan menulis dan membaca.

Sabtu, 05 Februari 2011

Mengubah cacian menjadi motivasi

MENJADI besar tanpa penderitaan sekaligus cacian orang, itulah kemauan banyak sekali anak muda. Dan kalau memang kehidupan seperti itu ada, tentu ada terlalu banyak manusia yang juga menginginkannya. Sayangnya wajah kehidupan seperti ini tidak pernah ada. Sehingga jadilah cita-cita menjadi besar tanpa penderitaan hanya sebagai khayalan manusia malas yang tidak pernah mencoba.

Ini serupa dengan khayalan seorang sahabat Amerika yang bertanya: kenapa Yesus tidak lahir di Amerika di abad ke-21 ini? Rekan lainnya sesama Amerika menimpali sambil bercanda: memangnya ada wanita Amerika yang masih perawan? Namanya juga canda, tentu tidak disarankan untuk memikirkannya terlalu serius. Apalagi tersinggung.

Namun bercanda atau tidak, serius atau sangat serius, kisah-kisah manusia kuat dan terhormat hampir semuanya berisi kisah-kisah penuh cacian sekaligus penderitaan. Sebutlah deretan nama-nama mengagumkan seperti Nelson Mandela, Mahatma Gandhi sampai dengan Dalai Lama. Semuanya dibikin kuat sekaligus terhormat oleh penderitaan.


Mandela menjadi kuat dan terhormat karena puluhan tahun dipenjara, disakiti serta diasingkan. Sekarang, ia tidak saja dihormati dan disegani namun juga menjadi modal demokrasi yang mengagumkan bagi Afrika Selatan. Gandhi besar dan menjulang karena terketuk amat dalam hatinya oleh kesedihan akibat diskriminasi dan penjajahan. Dan yang lebih mengagumkan, tatkala perjuangannya berhasil, ia menolak memetik buah kekuasaan dari hasil perjuangannya yang panjang, lama sekaligus mengancam nyawa.

Dalai Lama apa lagi. Di umur belasan tahun kehilangan kebebasan. Menginjak umur dua puluhan tahun kehilangan negara. Dan sampai sekarang sudah hidup di pengungsian selama tidak kurang dari empat puluh lima tahun. Setiap hari menerima surat sekaligus berita menyedihkan tentang Tibet.

Lebih dari itu, negaranya Tibet sampai sekarang kehilangan banyak sekali hal akibat masuknya pemerintah Cina. Namun sebagaimana sudah dicatat rapi oleh sejarah, daftar-daftar kesedihan Dalai Lama ini sudah berbuah teramat banyak.

Menerima hadiah nobel perdamaian di tahun 1989. Setiap kali berkunjung ke negara-negara maju disambut lebih meriah dari penyanyi rock yang terkenal. Karya-karyanya mengubah kehidupan demikian banyak orang. Sampai dengan julukan banyak sekali pengagumnya yang menyimpulkan kalau Dalai Lama hanyalah seorang living Buddha.


Hal serupa juga terjadi dengan tokoh wanita mengagumkan bernama Evita Peron. Belum berumur sepuluh tahun keluarganya berantakan karena ayahnya meninggal. Kemudian menyambung kehidupan dengan cara menjadi pembantu rumah tangga. Bosan jadi pembantu kemudian menjadi penyanyi bar. Dan bahkan sempat diisukan miring dalam dunia serba gemerlap ini.

Pernikahannya dengan Juan Peron tidak mengakhiri penderitaan, malah menambah panjangnya aliran sungai air mata. Namun kehidupan Evita Peron demikian bercahaya. Tidak saja di Argentina ia bercahaya, di dunia ia juga bercahaya.

Salah satu guru meditasi mengagumkan di Amerika bernama Pema Chodron. Tidak saja bahasanya sederhana, pengungkapan idenya juga mendalam. Namun kekaguman seperti ini juga berawal dari kesedihan mendalam. Sebagaimana yang ia tuturkan dalam When Things Fall Apart, perjalanan kejernihan Pema Chodron mulai dengan sebuah kesedihan yang tidak terduga: suaminya mengaku jatuh cinta pada wanita lain dan minta segera cerai. Bagi seorang wanita setia, tentu saja ini seperti petir di siang bolong. Namun betapa menyakitkan pun beritanya, hidup harus tetap berjalan.

Dari sinilah ia belajar meditasi dari Chogyam Trungpa. Dan ini juga yang membukakan pintu kehidupan yang mengagumkan belakangan. Sehingga di salah satu bagian buku tadi, Chodron secara jujur mengungkapkan kalau mantan suaminya yang di awal seperti mencampakkan hidupnya, ternyata seorang pembuka pintu kehidupan yang mengagumkan.

Cerita Thich Nhat Hanh lain lagi. Tokoh perdamaian asli Vietnam ini mengalami banyak sekali pengalaman getir ketika perang Vietnam. Kalau soal hampir mati, atau hampir diterjang peluru panas sudah biasa. Namun tatkala membawa misi perdamaian ke Amerika, ternyata pemerintah Vietnam melarangnya kembali ke Vietnam.

Dan sejak puluhan tahun yang lalu Thich Nhat Hanh bermukim di Prancis. Dan penderitaan serta kesedihan-kesedihan yang mendalam ini juga yang membuat nama Hanh demikian dikenal dan menjulang. Pernah dinominasikan sebagai pemenang hadiah Nobel perdamaian, dihormati di banyak sekali negara, dan karya- karyanya lebih dari sekadar mengagumkan.

Daftar panjang tokoh-tokoh kuat sekaligus terhormat, yang dibuat besar oleh penderitaan dan cacian orang masih bisa diperpanjang. Namun semua ini sedang membukakan pintu kehidupan yang amat berguna: penderitaan dan cacian orang ternyata sejenis vitamin jiwa yang membuatnya jadi menyala. Ini mirip sekali dengan judul sebuah buku indah yang berbunyi: Pain, the Gift that Nobody Want.

Rasa sakit, penderitaan, cacian orang hampir semua manusia tidak menghendakinya. Tidak saja lari jauh-jauh, bahkan sebagian lebih doa manusia memohon agar dijauhkan dari penderitaan, cacian sekaligus rasa sakit.

Namun daftar panjang kisah manusia seperti Dalai Lama, Pema Chodron sampai dengan Thich Nhat Hanh ternyata bertutur berbeda. Hanya manusia-manusia yang penuh kesabaran dan ketabahan untuk tersenyum di tengah cacian dan penderitaan, kemudian jiwanya menyala menerangi kehidupan banyak sekali orang.

Ternyata, penderitaan dan cacian orang di tangan manusia-manusia sabar dan tabah bisa menjadi bahan-bahan yang memproduksi kekaguman orang kemudian. Persoalannya kemudian, di tengah-tengah sebagian lebih wajah kehidupan yang serba instant, punyakah kita cukup banyak kesabaran dan ketabahan?

Sumber: http://notnegativethink.blogspot.com/2010/11/mengubah-cacian-jadi-kekaguman.html

Cepatlah pulang

Berapa kali kita kehilangan dalam menanti
Ratusan senja kucatat, kau belum kembali
Ingatan tentang mu makin mengabur

Jam berdetik, angin menghembus
Awal selalu mempunyai akhir, entah kapan
Di ujung siang ada petang
Di ujung hidup ada mati
Tapi akan kah di ujung penantian selalu ada pertemuan?

Teringat masa kecil

Jalan remang lampu lampu suram
Gerimis tipis tipis dan sedikit angin sepoi
Jam berapakah kini? Berapa tahun telah lewat?
Lima tahun? Atau mungkin sepuluh? entahlah..
(Apa makna dari angka? Apakah bilangan bilangan itu bisa dipercaya?)

Seperti mimpi, segalanya mengabur
Tiba tiba kurindukan diri dikala kecil
Menangis sekeras nya di kala sedih
Tertawa lepas menertawakan anehnya dunia
Bermain dengan angin, bercerita pada ilalang
Kurindukan masa kecil dipelukan ibu

Jumat, 04 Februari 2011

Bel sekolah pukul 06.30 merusak generasi penerus bangsa!

Pemerintah provinsi DKI jakarta yang terhormat dan kebanyakan menggunakan kendaraan pribadi ke kantor telah menelurkan sebuah kebijakan untuk mengatur jam masuk sekolah dan kerja. kebijakan ini pada awalnya dikatakan oleh pemerintah sebagai solusi untuk mengurangi kemacetan di jakarta. pemerintah beralasan bahwa jam masuk sekolah pukul 07.00 yang berbarengan dengan jam masuk kerja para pegawai kantoran adalah penyebab kemacetan di jakarta dengan prosentase 14%. walaupun sebelum kebijakan ini diterapkan sudah banyak pihak yang menanyakan efektivitas kebijakan ini, tapi pemerintah dengan congkaknya tetap memuluskan rencana pemajuan jam sekolah menjadi pukul 06.30 dan pengaturan jam kerja yang berbeda pada masing-masing wilayah dengan mengatakan sudah melalui prosedur dan survey yang teliti oleh para pakar.


tapi pada perjalanannya, pemajuan jam sekolah ini justru memperparah kemacetan di ruas-ruas jalan di ibukota. jam kemacetan menjadi semakin lama, jalan yang kemacetannya masih bisa ditoleransi menjadi macet total dan muncul titik macet baru di jalanan yang biasanya lancar.kartun setelah menelan kenyataan pahit dari kebijakan sembrononya, pemerintah tetap berkelit dan tidak mau mengkaji ulang kebijakannya. pemerintah yang di wakilkan oleh wakil gubernur prijanto mengubah alasannya bahwa pemajuan jam sekolah ini bertujuan membangun kepribadian para siswa agar terbiasa bangun lebih pagi sehingga kelak dikemudian hari dapat menjadi orang yang kompetitif di dunia kerja; sebuah sikap inkonsisten yang tidak patut. tapi sekali lagi alasan ini adalah alasan yang sembrono alias nggedabrus! alasan tersebut sebenarnya adalah sebuah pernyataan gamblang pemerintah yang melihat masyarakatnya bukan sebagai manusia yang punya keluarga, tujuan hidup dan tentu saja memiliki HATI dan PERASAAN. pemerintah seolah-olah menyatakan bahwa warga jakarta hanyalah sebagai robot dan komoditi bagi pendapatan kota jakarta sehingga yang perlu dipikirkan hanyalah harga jualnya.

selain itu, jika memang pemerintah ingin menaikan kualitas hidup pelajar jakarta dimasa depan, seharusnya pemerintah tidak perlu mengorbankan para siswa untuk melupakan kehidupan yang indah diwaktu pagi hanya untuk bermacet-macet ria untuk datang lebih pagi kesekolah. waktu senggang untuk bercengkrama dengan keluarga harus mereka lupakan demi kebisuan yang membosankan di angkutan umum yang terasa lama dan menyiksa karena kemacetan yang semakin hari semakin parah. waktu pagi untuk berolahraga guna mempersiapkan fisik untuk menghadapi hari yang keras di ibukota harus mereka hilangkan demi rasa capek dan ngantuk sepanjang hari. waktu sarapan yang bersama keluarga yang damai dan penting harus para pelajar hilangkan demi rasa lemas di dalam kelas. dan banyak lagi dampak negatif yang harus pelajar rasakan hanya karena ego pemerintah saat ini. dan perlu diingat bahwa dampak negatif ini akan terus membekas menjadi suatu kepribadian yang cacat dan permanen pada para pelajar sepanjang hidup mreka. karena semua dampak tersebut akan memiliki efek domino bukan hanya untuk seorang pelajar secara pribadi, tapi juga menjadi sebuah kepribadian kota jakarta. maka jangan heran jika kelak warga jakarta hanyalah menjadi ROBOT-ROBOT BERNYAWA yang sudah lagi tidak memiliki hati nurani dan jiwa sosial.

Sumber: http://wakier.wordpress.com/2009/05/02/bel-sekolah-pukul-0630-merusak-generasi-penerus-bangsa/

Jakarta kota ironi

Jakarta punya gedung gedung menjulang tinggi
Jakarta juga punya gubuk reot
Jakarta punya real estate
Jakarta juga punya rumah kumuh
Jakarta punya anak anak berprestasi
Jakarta punya pengamen pengamen kecil

Oh jakarta kota segala punya
Kota penuh drama dan ironi
Tempat hukum alam diterapkan tanpa nurani
Memakan atau dimakan
Berkuasa atau dikuasai

Jakarta kota ironi..

Pendidikan kita membosankan

“kalo ndak sekolahko moko jadi apa(Kerja apa)”

Itu kata-kata yang sering kita dengar dari para orang tua jika mengacuhkan atau sedikit membangkang dengan system pendidikan kita yang benar nama sekolah. Sekolah bagi para pelaku sekarang hanya sekedar sebuah rutinitas belaka untuk sekedar mengugurkan kewajiban dari ortu agar kelak kita dapat menjadi orang, yang mereka maksud dengan mendapatkan pekerjaan yang layak dengan upah yang tinggi. Sekolah yang dulu hanya sekedar untuk mengisi waktu luang telah bergeser rutinitas yang membosankan. Begitu juga pendidikan yang telah mengalami proses distorsi dari penanaman nilai kualitatif (kemanusiaan) menjadi pemberiaan nilai-nilai kuantitaif(0-10 atau A-E).

Sekolah, system pendidikan, dan apapun itu namanya hanya membuat kita teralenasi. Kita menjadi bukan diri kita sendiri. Seharusnya kita yang lebih condong ke Sastra dan menyenangi seni tapi akibat kedua hal itu tidak menjanjikan secara financial maka kita lebih memilih menjadi dokter atau akuntan.

Perubahan nama instansi pendidikan dari SMP menjadi SLTP, SMA menjadi SLTA lalu SMU, dan pemberian nama Akademi, Sekolah Tinggi, Institut, dan univesitas hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar. Demikian juga dengan penganti kurikulum hanya menciptakan tenaga kerja yang siap-siap dieksploitasi. Bergantinya kurikulum sekolah dari kurikulum 1994 menjadi kurikulum berbasis kompentensi makin mengindikasikan bahwa system pendidikan kita hanya untuk menciptakan orang yang akan mengabdikan dirinya pada pemilik madal. Iklan-iklan yang katanya layanan masyarakat yang mengarahkan bahwa sekolah kejuruan akan menyelesaikan masalah-masalah ketenagakerjaan hari ini. Penegasan iklan itu bahwa sekolah dibuat sebagai pabrik yang akan menciptakan sebuah komoditi yang kita beri nama tenaga kerja(worker, labor, and employmend).

Penguasa yang berkedok pemerintah telah bekerjasama dengan para pemilik modal yang bertopeng mengekang kita dalam sebuah system pendidikan. Membuat peraturan yang paling kecil hingga Undang-undangnya. Kita yang masih duduk dibangku sekolah diwajibkan untuk mematuhi seluruh jam pelajaran. Hal itu agar kelak saat keluar kita selalu mematuhi jam kerja yang telah diatur oleh majikan atau bos kita.

Kurikulum kita hari jelas-jelas diarahkan oleh pasar. Pelajaran-pelajaran atau pengetahuan yang dianggap tidak relevan dengan kondisi pasar tidak akan dimasukkan ke dalam kurikulum. Saya yang merupakan mahasiswa Ekonomi yang mau belajar salah satu aliran ekonomi harus gigit jari karena itu tidak akan silabus-silabus kurikulum para dosen. Itu terjadi karena pemikiran ekonomi tersebut tidak sesuai dengan mekanisme pasar sehingga tidak dimasukkan. Kawan-kawanku pun yang belajar di social harus mengelus dada akibat tidak mendapatkan kajian social kritis. Yang lebih rancu dan lebih aneh adalah ada beberapa mata kulih atau mata pelajaran yang juga tidak dibutuhkan pasar ternyata dimasukan ke dalam kurikulum. Mata kuliah itu ditunjukan untuk tetap mempertahankan dominasi pemerintah yang malu menyebut diri mereka sebagai penguasa. Itu semua dilakukan agar simbiosis mutualisme yang dilakukan oleh pemerintah dengan para kaum borjuasi tetap dapat berjalan.

Kerjasama antara pemerintah dan pemilik modal untuk mengarahkan system pendidikan kita tidak selesai sampai pada peraturan kecil tapi sudah sampai ke Undang-undang(UU), Keputusan Presiden (Keppres), Peraturan Pemerintah(PP), serta masih banyak peraturan lainnya yang saling melengkapi.

Yang nyata dari kerjasama itu yakni lahirnya Memorandum of Understanding(MoU) yang bernama RUU BHP. Dalam RUU BHP ini memperboleh para investor memasukan dananya ke pendidikan. Dan kita ketahui bersama bahwa para Corporasi tidak akan melakukan dengan berlandaskan pada profit oriented. Sehingga ke depannya kondisi seklah-sekolah kita dan system pendidikan akan semakin membosankan. Kita hari ini duduk di bangku sekolah bukan untuk mememitik pengetahuan tapi untuk memburu pekerjaan

Kalau kondisi ini terus terjadi dan diperparah oleh akan disahkannya RUU BHP maka “pendidikan kita akan sangat membosankan”. Kita semua akan berada pada masa yang stagnan yang mereka (pemerintah dan Investor) sebut sebagai keteraturan yang dibungkus dalam konsep yang kita kenal dengan nama peraturan.

Diinspirasi : dari diskusi dengan kawan-kawanku dan setelah membaca semua artikel dari seorang ibu rumah tangga yang diterbitkan media yang tertulis ‘Apokalips’ pada halaman pertama bagian atas. Judul artikelnya “Politik kita menjenuhkan”.

Sumber : http://anak2zaman.blogspot.com/2008/04/pendidikan-kita-membosankan_23.html

Kamis, 03 Februari 2011

Jepang dan wal-mart

Mall mall di tengah kota bukan lagi sebuah keanehan sekarang. Bahkan sudah jadi hal yang wajar kota kota besar seperti jakarta ini mempunyai beberapa puluh mall mall yang hampir semuanya dimiliki oleh investor asing.

Untuk urusan bisnis ritel, Indonesia harus banyak belajar dengan China. Mereka (China) hanya membolehkan ritel asing masuk di 12 kota di pantai yang boleh tidak boleh ke darat, karena mereka menganut dua sistem ekonomi yaitu liberal di wilayah perkotaan, sosialis di pedesaan atau wilayah pedalaman. Menurut gue ini yang harus nya diterapkan di Indonesia.

Yang bisa diupayakan untuk mengurangi serbuan impor dan masuknya mal-mal asing, dengan meningkatkan kesadaran rakyat untuk tidak membeli barang impor dan belanja di mal asing. Dalam hal ini kita perlu mencontoh jepang kepada wal-mart (perusahaan retail terbesar di amerika). Ternyata Wal-Mart di Jepang mengalami rugi karena orang Jepang tidak ada yang mau masuk ke supermarket. Ini yang ingin kita bangkitkan, yakni nasionalisme untuk abad 21.

Harus nya rakyat sadar kalau ke supermarket maka petani dan pedagang kecil akan menangis. Jadi, kesalahan bukan hanya pada sistem pemerintahan saja (walaupun tetap mempunyai andil yang besar). Untuk perbandingan, negara-negara yang bebas memperbolehkan ritel asing masuk seperti Filipina, Indonesia dan Thailand, pertumbuhan ritelnya mengkuti pertumbuhan ekonomi yang justru selalu berada diangka dibawah 10% Misalnya Indonesia pada tahun 2008 pertumbuhan ekonominya 6% lebih maka ritelnya pun tumbuh disekitar itu bahkan tahun ini hanya diperkirakan 4% saja.

Maka, gue memohon dengan sangat kepada kalian yang merasa selama ini terlalu sering mengunjungi mall mall, mendingan kita balik lagi ke pasar tradisional. Kita tiru jepang dengan wal-mart nya yang menurut gue sangat inspirasional banget. Ajakan untuk menjauhi mall mall yang dimiliki oleh investor asing, lalu kita bangun sendiri 'mall-yang-benar-benar-indonesia'.




Sumber : http://www.kilasberita.com/kb-finance/ekonomi-a-moneter/15513-pemerintah-harus-belajar-ke-india-ritel-asing-incar-indonesia

Menulis untuk melawan

Ketika kalian merasa bahwa dunia ini selalu tidak adil kepada mereka yang lemah dan tidak berdaya, maka menulislah. Ketika orang lain menginjak harga diri kalian dan hatimu sepertinya tidak akan pernah memaafkan dan inginkan perlawanan, maka menulislah.

Orang bisa saja melukai kita dengan pukulan, tendangan, hinaan, cacian, fitnah, dan banyak hal. Hal hal yang mungkin kita lakukan selanjutnya adalah melawan atau mengikhlaskan saja perlakuan tersebut. Jika kalian hendak membalas dengan melukai fisik musuh, itu hanya akan menyisakan sedikit kesakitan Tapi jika kalian memilih menumpah ruahkan amarah ke dalam tulisan, akan menciptakan rasa pedih yang tiada bakal pulih. Racun yang akan menggerogoti perlahan benak yang telah mencelakai kalian.

Rabu, 02 Februari 2011

Tugas para sastrawan

Tugas sedih seorang sastrawan adalah
Menyampaikan kesedihan kepada kalian
Entah itu ketidakadilan ataupun ketamakan
Mungkin juga keegoisan dan kesalahpahaman
Tapi, yang membuat itu semua menyedihkan adalah
Kenyataan bahwa kita tak bisa membantu mereka yang membutuhkan

Maka itu, seorang sastrawan dibutuhkan untuk jadi penyambung lidah
Dari masyarakat tertindas untuk mereka yang berkuasa
Yang berpikir merdeka dan berani menantang tirani
Mendobrak segala batasan batasan kesenjangan miskin dan kaya
Bukan mereka yang bergulat dengan perasaanya sendiri
Hingga lupa keadaan di sekitar telah memaksa saudara saudara kita
Mengalami hal yang lebih berat dari sekedar 'cinta-pada-sang-kekasih'

Oh, para 'sastrawan salon'
Mari lupakan sejenak masalah sakit hatimu
Suara kita dibutuhkan untuk jadi penyambung lidah rakyat
Kepada mereka yang lalim dan mabuk kekuasaan..

Selasa, 01 Februari 2011

Mereka adalah ojek payung

Kala musim hujan datang
Di sebuah sudut jalan seberang mall
Sepintas tak ada yang aneh
Namun lihatlah ke sudut sudut terpencil
Anak anak pengojek payung siap sedia menawarkan jasa

Jumlah mereka puluhan
Dengan payung besar menunggu di tepi jalan
Ketika itu gelap sudah tiba di Jakarta
Hujan tak mau reda, turun tiada henti
Bermodalkan sebuah payung
Yang mungkin tak bisa hilangkan dingin yang datang menyerang

Mereka menunggu dan terus menunggu
Mengadu kekuatan dengan dingin nya malam
Satu-dua orang pakai jasa nya
Walaupun terkadang yang mereka dapatkan hanyalah
Sebuah senyum dan ucapan terima kasih
Mereka tetap setia, menunggu hujan reda


Jikalau pun kau bertanya
Salah siapa semua ini
Kau bisa salahkan banyak orang
Bahkan mungkin tuhan bisa kau jadikan tersangka
Yang paling menyakitkan adalah
Ketika kita tidak bisa berbuat apa apa untuk menolong mereka..