Kadang, sebagian dari kita nganggep 'musuh' dan lawan itu sinonim. Ini yang biasanya suka disepelekan, tapi artinya penting. Contohnya, kita bisa bilang 'lawan kata' tapi gak bisa bilang 'musuh kata'. Kita juga bisa bilang 'lawan bicara', tapi bukan 'musuh bicara'.Emang rada mirip, tapi kesan nya beda banget.
Sekarang korelasi nya judul tersebut sama Indonesia dan Malaysia. Kita MELAWAN kesebelasan sepak bola Malaysia, tapi bukan MEMUSUHI. Bukan nya gue belain Malaysia nih ya, tapi kita emang mesti damai kok sama mereka. Ga ada lagi yang harus saling ngata ngatain tentang negara, kayak anak kecil aja. Gue juga setuju kalo kita harus tegas kalo menyangkut harga diri bangsa.
Kamis, 30 Desember 2010
Rabu, 29 Desember 2010
Untuk para pengasong jalanan
Untuk anak anak jalanan yang budiman. Untuk anak anak jalanan yang tidak memilih untuk menjadi pencopet atau peminta minta. Untuk anak anak jalanan yang berusaha mencari sesuap nasi dari hasil yang halal. Mengasong (mungkin) adalah salah satu cara mereka mendapatkan sesuap nasi yang halal.
Pak polisi, atau instansi apapun yang menangani masalah anak jalanan. Tolong jangan tangkap mereka. Hanya itu yang mereka bisa. Mereka masih ratusan kali lebih baik daripada para koruptor. Memang mereka mengganggu jalan nya lalu lintas. Tapi seeprtinya kalian tidak terganggu pada ulah koruptor yang memiskinkan kita.
Bapak ingat dengan pasal 34 ayat (1) UUD 1945? Bunyinya kira kira seperti ini "Fakir miskin dan anak anak yang terlantar dipelihara oleh negara". Setidaknya berikanlah mereka alternatif, kesempatan untuk memperbaiki kehidupan mereka. Ya, semoga...
Pak polisi, atau instansi apapun yang menangani masalah anak jalanan. Tolong jangan tangkap mereka. Hanya itu yang mereka bisa. Mereka masih ratusan kali lebih baik daripada para koruptor. Memang mereka mengganggu jalan nya lalu lintas. Tapi seeprtinya kalian tidak terganggu pada ulah koruptor yang memiskinkan kita.
Bapak ingat dengan pasal 34 ayat (1) UUD 1945? Bunyinya kira kira seperti ini "Fakir miskin dan anak anak yang terlantar dipelihara oleh negara". Setidaknya berikanlah mereka alternatif, kesempatan untuk memperbaiki kehidupan mereka. Ya, semoga...
Optimisme di tengah dunia yang sinis
Abis kekalahan indonesia yang TERHORMAT, gue refleks jadi mikir. Ternyata pesimisme selalu lebih dominan, seberapa keras pun gue berusaha untuk optimis. Terbukti dari gue, yang udah matiin tv dari menit 80, karena ga sanggup liat malaysia menang. Pesimis selalu lebih gampang dari optimis. Malaysia menang. Kentut.
Tapi yang mau gue omongin kali ini tentang optimisme dan pesimisme yang udah kayak jodoh, selalu ada di diri kita. Kenapa gue bilang pesimisme selalu lebih gampang dari optimis? Coba aja, lebih sering mana kita dapet, durian jatoh apa nasib sial? Lebih banyak orang yang tewas karena kecelakaan atau orang yang menang lotere Lebih banyak orang yang tewas karena bencana alam dibanding orang yang dapet nobel.
Tapi mereka yang selalu pesimis dengan pikiran, “gue-akan-ketabrak-mobil-hari-ini”, bakal tumbang setelah bangun pagi dan gak berani ngambil keputusan apapun, bahkan untuk sekedar sarapan. Mungkin, dari zaman dulu juga udah ditanamkan sikap optimisme. Jadi optimisme adalah mekanisme bertahan hidup, paling nggak dari segi mental. Untuk bertahan hidup di dunia yang sinis ini.
Doa 120 juta rakyat kepada timnas.
Abis nonton bola babak pertama tadi, indonesia lawan malaysia gue baru sadar. Rakyat indonesia kan ada 240 juta. Kalo misalnya yang nonton bola ada 50% nya, berarti ada 120 juta yang mendukung timnas indonesia. Wow, merinding gue ngebayangin nya gile. Bayangin aja, doa 120 juta manusia ke timnas dan gimana coba kecewanya kalo misalnya timnas kalah. Kalopun kalah, duh kayaknya rakyat ga pernah seneng deh selalu kecewa melulu.
Bayangin 120 juta orang yang kecewa. Miris banget, ya ampun ayolah timnas kalian bisa! Tapi gue berharap rasa nasionalisme ini gak cuma gara gara eurofia bola doang. Sudah saat nya kita bangga sama tanah air kita ini, Indonesia. Ga peduli gimana nanti hasil skor nya, menang atau kalah, jaga bara api nasionalisme yang ada di setiap kita anak indonesia ini.
Bayangin 120 juta orang yang kecewa. Miris banget, ya ampun ayolah timnas kalian bisa! Tapi gue berharap rasa nasionalisme ini gak cuma gara gara eurofia bola doang. Sudah saat nya kita bangga sama tanah air kita ini, Indonesia. Ga peduli gimana nanti hasil skor nya, menang atau kalah, jaga bara api nasionalisme yang ada di setiap kita anak indonesia ini.
Selasa, 28 Desember 2010
Catatan dari pinggiran kota (1998)
Di hari ini
Awan mendung langit sepi enggan disapa
Bahkan terlihat seperti tanpa harapan
Hawa dingin pun tak bisa lagi diabaikan
Tak lama, hujan setitik setitik berhamburan
Di hari dimana berteriak pun tak didengar
Tinta tak lagi dibutuhkan jika menulis pun diabaikan
Hari suram dimana kita ditertawakan mimpi
Ini catatan dari pinggiran kota
Dari seseorang yang nyaris tanpa harapan
Karena terlalu lama matahari tak bersinar
Atau mungkin bersinar, namun tertutup kabut kejahatan
Surat untuk siapa saja
Selamat pagi bapak mentri atau presiden. Mungkin pejabat pemerintah. Atau pak jendral dan pak polisi. Boleh jadi pegawai negeri. Bisa jadi sopir metromini. Boleh juga petani dan nelayan. Ah, siapa saja boleh.
Surat ini berhubungan dengan teman teman ku, yang kalian bilang kaum miskin dan terbelakang. Mereka yang hanya menjadi penonton di era globalisasi dan pembangunan ini. Maaf, tapi tidak bisa disebutkan satu satu. Mungkin butuh beberapa ribu lembar halaman untuk menuliskan nama nama mereka yang terlanjur banyak dan nyaris tak terhitung. Lagipula siapa peduli dengan angka.
Yang saya ingin sampaikan adalah, mereka itu nyata. Bukan perhitungan angka yang terlanjur banyak dikorupsi. Mereka bukan hanya hitung hitungan sensus penduduk, mereka nyata. Hidup di sekeliling kita. Mengetuk kaca mobil kita, mencari nafkah dari koin koin yang tak sengaja terjatuh dan tidak dipedulikan. Dipanggang terik sinar matahari ketika siang dan disengat udara dingin kala malam.
Anda tidak lagi bias berpura pura tak peduli bapak bapak atau mungkin ibu ibu sekalian.Mereka yang dimiskinkan oleh pemerintah nya ini akan semakin bertambah.Bukan maksud saya menakut nakuti tapi inilah faktanya.
Kiranya surat yang biasa ini bisa menyampaikan keadaan lingkungan yang saya lihat sehari hari. Terima kasih.
Surat ini berhubungan dengan teman teman ku, yang kalian bilang kaum miskin dan terbelakang. Mereka yang hanya menjadi penonton di era globalisasi dan pembangunan ini. Maaf, tapi tidak bisa disebutkan satu satu. Mungkin butuh beberapa ribu lembar halaman untuk menuliskan nama nama mereka yang terlanjur banyak dan nyaris tak terhitung. Lagipula siapa peduli dengan angka.
Yang saya ingin sampaikan adalah, mereka itu nyata. Bukan perhitungan angka yang terlanjur banyak dikorupsi. Mereka bukan hanya hitung hitungan sensus penduduk, mereka nyata. Hidup di sekeliling kita. Mengetuk kaca mobil kita, mencari nafkah dari koin koin yang tak sengaja terjatuh dan tidak dipedulikan. Dipanggang terik sinar matahari ketika siang dan disengat udara dingin kala malam.
Anda tidak lagi bias berpura pura tak peduli bapak bapak atau mungkin ibu ibu sekalian.Mereka yang dimiskinkan oleh pemerintah nya ini akan semakin bertambah.Bukan maksud saya menakut nakuti tapi inilah faktanya.
Kiranya surat yang biasa ini bisa menyampaikan keadaan lingkungan yang saya lihat sehari hari. Terima kasih.
One teribble day!!
Ini satu hari yang parah. Dari satu hari yang tuhan kasih ke gue, ga ada kegiatan produktif yang gue lakukan. Parah. Buang buang waktu banget gue. Abis seharian cuma depresi, bingung mau ngapain. Rencana gue sih udah packing mau ke Pantai Rancabuaya, eh izin dari nyokap kagak dapet.
Gue jadi mikir, mungkin nanti kalo gue udah tua dan kebetulan buka buka blog ini lagi gue baru ye nyesel kenapa ga cari kegiatan yang produktif gitu. Ngebayangin gitu jadi dilema sendiri gue, jadi merasa harus melakukan sesuatu yang penting dan berguna untuk masa depan. Tapi apa ya? Apa dong?
Ternyata ga ada kerjaan itu bikin orang galau. Dan kalo galau, orang suka mikir macem macem yang ga pernah sempet kepikiran gara gara sibuk sekolah. Nah lho, kalo udah gini banyak orang yang hopeless dan gatau mesti ngapain. Gejala yang paling keliatan nya, langsung update status galau (untung gue belom sampe tahap ini). Tapi gue udah nulis tulisan galau ini (berarti lebih parah dong?)
Yaudah, masalah hari ini cukup untuk hari ini aja, gak usah dipikirin besok. Mudah mudahan besok jadi hari yang (harus) lebih baik. amin.
Gue jadi mikir, mungkin nanti kalo gue udah tua dan kebetulan buka buka blog ini lagi gue baru ye nyesel kenapa ga cari kegiatan yang produktif gitu. Ngebayangin gitu jadi dilema sendiri gue, jadi merasa harus melakukan sesuatu yang penting dan berguna untuk masa depan. Tapi apa ya? Apa dong?
Ternyata ga ada kerjaan itu bikin orang galau. Dan kalo galau, orang suka mikir macem macem yang ga pernah sempet kepikiran gara gara sibuk sekolah. Nah lho, kalo udah gini banyak orang yang hopeless dan gatau mesti ngapain. Gejala yang paling keliatan nya, langsung update status galau (untung gue belom sampe tahap ini). Tapi gue udah nulis tulisan galau ini (berarti lebih parah dong?)
Yaudah, masalah hari ini cukup untuk hari ini aja, gak usah dipikirin besok. Mudah mudahan besok jadi hari yang (harus) lebih baik. amin.
Sabtu, 25 Desember 2010
Mereka dimiskinkan oleh pemerintah, pak!
Gue tadi nganterin nyokap gue ke carefour buaran. Karena nyokap gue cepet, jadi gue nunggu di depan pintu masuk nya. Nah, saat gue nunggu itu gue liat ada ibu ibu minta uang gitu duduk di trotoar jalan. Wah sumpah, nusuk banget gila liat nya. Gak lebay, beneran ini. Disana sembari nunggu gue mulai berfikir.
Apa yang salah sama mereka? Kurang kerja keras? Gak, mereka malah sangat bekerja keras. Rakyat kita ini sebenernya rakyat yang ulet kok. Kurang pendidikan? Mungkin. Tapi gue pengen konsentrasi ke masalah kerja keras dulu.
Jadi kenapa rakyat kita miskin? Sebenernya RAKYAT ITU GAK MISKIN, CUMA MEREKA DIMISKINKAN SAMA PEMERINTAH! Mereka ditumbalkan buat kemajuan ekonomi bagi mereka yang mampu cenderung berkecukupan. Yang salah adalah sistem nya. Kapitalisme bangsat itu yang bikin rakyat kita melarat. Gue dengan ini, berjanji. Akan menentang segala bentuk kapitalisme. Gue akan berhenti pergi ke tempat fast food buatan luar negeri. Bahkan gue akan berjalan menjauhi segala bentuk MALL MALL, apalagi mall yang MENGAKU MALL INDONESIA TAPI GAK ADA INDONESIA INDONESIA NYA. Persetan dengan mereka!!
Apa yang salah sama mereka? Kurang kerja keras? Gak, mereka malah sangat bekerja keras. Rakyat kita ini sebenernya rakyat yang ulet kok. Kurang pendidikan? Mungkin. Tapi gue pengen konsentrasi ke masalah kerja keras dulu.
Jadi kenapa rakyat kita miskin? Sebenernya RAKYAT ITU GAK MISKIN, CUMA MEREKA DIMISKINKAN SAMA PEMERINTAH! Mereka ditumbalkan buat kemajuan ekonomi bagi mereka yang mampu cenderung berkecukupan. Yang salah adalah sistem nya. Kapitalisme bangsat itu yang bikin rakyat kita melarat. Gue dengan ini, berjanji. Akan menentang segala bentuk kapitalisme. Gue akan berhenti pergi ke tempat fast food buatan luar negeri. Bahkan gue akan berjalan menjauhi segala bentuk MALL MALL, apalagi mall yang MENGAKU MALL INDONESIA TAPI GAK ADA INDONESIA INDONESIA NYA. Persetan dengan mereka!!
Jumat, 24 Desember 2010
Surat yang tak pernah sampai
Karena surat itu tidak pernah sampai ke tujuan
Maka hanya menjadi penghuni di laci yang berdebu
Tinta pulpen dan barisan kata yang membentuk kalimat
Menjadi perantara ku untuk mu merasakan
Apa yang telah kurasakan tentang mu
Dari kejauhan aku membayangkan
Bagaimana perasaan mu ketika membaca surat ini
Mungkin kamu tertawa
Mungkin kamu kaget
Boleh jadi kau marah padaku
Atau mungkin kau tak tahu harus bagaimana
Tapi itu tidak mungkin
Karena surat itu hanya jadi penghuni di laci yang berdebu
Maka hanya menjadi penghuni di laci yang berdebu
Tinta pulpen dan barisan kata yang membentuk kalimat
Menjadi perantara ku untuk mu merasakan
Apa yang telah kurasakan tentang mu
Dari kejauhan aku membayangkan
Bagaimana perasaan mu ketika membaca surat ini
Mungkin kamu tertawa
Mungkin kamu kaget
Boleh jadi kau marah padaku
Atau mungkin kau tak tahu harus bagaimana
Tapi itu tidak mungkin
Karena surat itu hanya jadi penghuni di laci yang berdebu
Kamis, 23 Desember 2010
Apa yang kita petik adalah yang kita tanam.
Gue emang paling suka waktu liburan deh. Gue amatin temen temen gue ada yang bete, atau ngeluh ga punya duit lah, bingung mau ngapain lah dan macem macem. Ini yang harus gue manfaatkan. Senggang gini, bikin gue sama gitar gue reunian sepanjang hari.
Tanpa sadar, 1 lagu tercipta. Judulnya mimpi yang tertunda. Emang masih mentah, tapi gue cukup puas sama lagu itu. Karena lagu itu, bukan soal cinta. Dengan harapan suatu saat nanti, musik gue bisa dinikmatin banyak orang dan pesan positif nya bisa sampai ke pendengar. Itu cita cita semua musisi kan?
Gue jadi mau buat konsep kerja keras, mimpi dan waktu dari persamaan kecepatan, waktu dan jarak
MIMPI=KERJA KERAS/WAKTU
Dari rumus diatas bisa diambil kesimpulan. Semakin banyak waktu yang dihabiskan buat kerja keras, semakin besar mimpi yang gue dapet. Dan semakin sedikit waktu luang yang ada, semakin besar mimpi dapat tercapai.
Tanpa sadar, 1 lagu tercipta. Judulnya mimpi yang tertunda. Emang masih mentah, tapi gue cukup puas sama lagu itu. Karena lagu itu, bukan soal cinta. Dengan harapan suatu saat nanti, musik gue bisa dinikmatin banyak orang dan pesan positif nya bisa sampai ke pendengar. Itu cita cita semua musisi kan?
Gue jadi mau buat konsep kerja keras, mimpi dan waktu dari persamaan kecepatan, waktu dan jarak
MIMPI=KERJA KERAS/WAKTU
Dari rumus diatas bisa diambil kesimpulan. Semakin banyak waktu yang dihabiskan buat kerja keras, semakin besar mimpi yang gue dapet. Dan semakin sedikit waktu luang yang ada, semakin besar mimpi dapat tercapai.
Selasa, 21 Desember 2010
Sesalku di kemudian hari
Hai bung, makin pandai saja kau bermain dengan waktu
Detik menit jam dan hari
Kau akali dengan sebaik mungkin
Aku ini si bodoh yang tak mengerti waktu
Yang kulakukan hanya membuang harta ku yang tak tampak
Si waktu itu lah…
Dan tampaknya sudah akrab kau dengan resiko
Bermain api bukan hal yang aneh bagi mu
Terbakar ribuan kali pun tetap mencoba lagi
Ah, berbeda sekali dengan ku
Aku tak berani hidup menderita
Hidup senang tanpa resiko semboyan ku
Maka itulah kita berbeda
Dari segala apa yang terlihat maupun tak terlihat
Bung dengan setelan rapih dan wangi terlihat klimis
Aku dengan sarung dan kaos kutang bau amis
Kita bersimpangan di setiap keputusan
Yang harus memilih, kalah atau menang
Sesalku dikemudian hari….
Kamis, 16 Desember 2010
Cita cita
Gue abis nonton film indonesia judulnya alangkah lucu nya (negeri ini). Dari judul nya aja kita udah bisa tau bahwa tema yang diangkat film ini adalah gambaran kondisi negeri kita yang sangat ironis. Dari sini juga, gue mulai banyak berfikir. Di film ini, diperlihatkan keironisan negeri ini yang membiarkan koruptor merajalela dan menagkapi anak anak yang menjadi pedagang asongan di jalan jalan.
Gue salut banget sama pesan yang berusaha disampaikan film ini. Seharusnya film film kayak gini yang banyak di produksi dan disiarkan di tv. Bukan sinetron pembodohan. Sebenernya gue juga bingung ini semua salah siapa. Kalo gue jadi produser sinetron itu, gue dituntut harus mendapatkan rating film yang tinggi. Sedangkan untuk dapet rating film yang bagus gue harus menjual kisah cinta pembodohan. Kalo gue bikin film yang mengandung pesan moral, khawatir rating nya bakal turun.
Sementara itu, niat gue untuk jadi guru pun sedikit sedikit dibangkitkan. Emang sih, bayangan gue setelah lulus kuliah gue bakal kerja di kantoran, pake kemeja, desek desekan di busway, berangkat pagi pulang malem, dan berbagai aktivitas yang monoton dan gak seru. Tapi setelah nonton film ini, gue jadi punya opsi lanjutan. Setelah gue jadi pegawai kantoran yang punya jabatan cukup, gue bakal merantau ke desa terpencil dan jadi guru. Gue akan mencoba memberdayakan sumber daya manusia di desa desa terpencil.
Karena menurut gue, gue mau kerja yang menguntungkan banyak orang. Bukan semata gaji yang menguntungkan gue. Udah terlalu banyak orang yang bergaji besar di Indonesia. Ga perlu lagi orang egois kayak gitu. Kenapa gue sebut mereka egois? Karena mereka gak berusaha membangun negeri ini, yang mereka lakukan cuma memanfaatkan kemiskinan untuk mengambil keuntungan sebesar besarnya. Emang gak semua sih. Tapi itu kesan yang gue dapatkan dari mereka mereka yang berjabatan tinggi tapi tanpa ada rasa untuk memajukan negeri ini.
Senada dengan tema nasionalis yang gue angkat di postingan gue sebelumnya, gue akan membangun bangsa ini. Ya. Walaupun dengan cara yang berputar. Yang gue maksud berputar adalah menjadi yang bukan gue inginkan lalu setelah gue rasa cukup, gue akan menjadi yang gue mau. Untuk membangun bangsa ini, bangsa Indonesia..
Rabu, 15 Desember 2010
Hujan ketika senja beranjak malam
Aku tak lagi mampu mengingat kapan kisah itu dimulai dan kapan pula selesai nya. Barangkali pada sebuah sore yang mendung di metromini yang penuh sesak. Atau mungkin di rumah mu, ketika hujan dan teh manis menjadi saksi bahwa kita pernah bertemu. Ya, mungkin disana. Senja yang kusimpan di sudut ingatan yang berusaha untuk dilupakan. Masih belum semua ku katakan, tapi biarlah. Kutinggalkan sepucuk pesan dari kata kata yang tak sempat ku ucapkan. Ingat? Tapi sepertinya kamu tidak begitu peduli. Oh ya, mungkin disitu cerita nya berakhir. Mungkin.
Mengingat masa lalu
Di tengah malam yang sedih dan sepi ini
Seluruh kesedihan dimulai
Ah, kuyakin malam ini akan jadi malam yang panjang
Masa lalu selalu jadi tujuan yang paling masuk akal
Ketika manusia kehilagan arah dan tujuan
Hening memaksa kembali untuk mengingatkan
Hal yang terpenting yang berusaha dilupakan
Ingatan tentang kamu selalu ada
Di sudut terpencil di bagian memori
Disaat saat terlemah, ingatan itu kembali
Ingatkan bahwa dulu kita pernah bahagia
NASIONALISME part II
Gue berpikir lebih jauh lagi tentang kisah heroik pahlawan bangsa kita. Sebagian dari perjuangan mereka sekarang tercatat di buku sejarah yang kita pelajari. Walaupun cuma sebagai kalimat yang diperpendek supaya gampang diingat siswa. Kalimat pendek yang mungkin nyata nya bisa berhari hari, bahkan berbulan bulan. Kejadian yang bukan hanya soal menang dan kalah. Korban jatuh yang tak tercatat nama nya. Pahlawan pahlawan mati tanpa pernah dikenal namanya. Peluru. Darah. Nyawa. Kebencian. Kesedihan. Kemarahan. Banyak hal yang gak bisa diungkapkan dengan kata kata.
Sebelum gue sadar akan hal ini, yang ada di otak gue hanya gimana caranya supaya gue bisa hapal tentang sejarah yang besok bakal jadi bahan ulangan. Ternyata gue salah. Ya, SALAH BESAR. Kita harus bisa memaknai dengan sungguh sungguh peristiwa yang kita baca. Kedengeran nya sih, klise banget. Tapi itu fakta nya. Bahwa memperjuangkan kemerdekaan itu susah nya bukan main dan butuh pengorbanan selama ratusan tahun sebelum kita bisa merdeka.
Jadi tolong lah, bagi kalian kalian yang masih merasa ORANG INDONESIA, kita gak perlu kok berfoya foya ngikutin tren barat yang hedonis. Kita bisa hidup dengan gaya ORANG INDONESIA yang sederhana tapi banyak cinta. Hidup dengan berbagi. Ga perlu lagi deh ada acara menumpuk harta demi ambisi egois yang mengorbankan rakyat. Kita kelola alam kita dengan lebih baik, kita hidup dari sana dan mati di tanah air yang telah melahirkan dan membesarkan kita.
Selasa, 14 Desember 2010
NASIONALISME
Belakangan ini, karena liburan udah mulai otomatis kegiatan gue berkurang. Tiba tiba gue jadi kepikiran. Gue tau kebanyakan anak muda zaman sekarang menganggap sebelah mata pelajaran sejarah di sekolah nya. Tadinya gue juga termasuk begitu. Tapi sekarang, gue mengutuk semua orang yang dengan mudah nya menyepelekan pelajaran sejarah, terutama sejarah tentang negara kita sendiri.
Apa yang lo temukan di buku itu? Cuma tulisan kalo Indonesia pernah dijajah sama Belanda. Ya, tulisan dan tulisan. Pernah lo bayangin gimana pahlawan pahlawan kita berperang? Ah, mungkin yang terbayang cuma kita pernah melawan Belanda dengan bambu runcing? Bahwa kita kebetulan bisa menang melawan belanda yang menggunakan senjata canggih? Gak pernah terpikir bahwa kemenangan itu harus diraih dengan pengorbanan yang tak terhitung nilai nya?
Pahlawan yang bersusah payah mendapatkan kemerdekaan dengan mengetahui bahwa mereka tidak akan pernah merasakan merdeka. Gue rasa itu semua yang udah hilang dari kita, masyarakat modern tidak tahu terima kasih yang terlalu sombong dan tidak tahu malu. Coba gunain hukum permisalan kalo kalian jadi mereka yang hidup di tahun 45. Bisa kalian kayak mereka? Meninggalkan segala harta benda, sanak keluarga dan membagi apa yang kalian punya untuk kemerdekaan?
Sekarang hubungan nya sama kita, anak INDONESIA. Liat acara acara musik di televisi. Liat anak anak yang dengan bangga nya beli barang barang bermerk luar negeri. Liat mereka yang dengan mudah nya mengkorupsi uang rakyat. Liat mereka yang masuk dan keluar dari mall mall yang dibangun luar negeri. Gue emang bukan orang yang mampu untuk ngkutin tren yang katanya bahwa mall adalah rumah kedua. Lebih lagi, gue mengutuki semua orang yang berprinsip kayak gitu.
Mereka lupa dengan perjuangan pahlawan kita? Atau lebih buruk lagi, mereka tidak peduli dan mau tau tentang sejarah negeri ini. Kenapa kita bisa hidup merdeka seperti ini? Gak pernah kepikiran atau memang tidak mau tau?
Gue cinta negeri ini. Sangat. Ini rumah kita. Kita makan dari hasil tanah ini. Buah yang kita makan, hasil dari negeri ini. Kita hidup menghirup udara negeri ini. Ini negeri kita, tempat kita berpijak. Jadi tolong, hargai jasa pahlawan pahlawan kita yang gagah berani. Lakukan apa yang menurut lo benar, dengan jiwa nasionalisme kita. MERDEKA!!
Senin, 13 Desember 2010
aku belum bisa menyebut nama mu
Ya, aku belum bisa mengucapkan nama mu lagi
Di surat, di buku harian dan percakapan sehari hari
Seperti dulu, nama mu belum bisa kusebut kini
Dari sekian ratus senja yang kucatat
Namun, pada suatu hari kan kusebut nama mu utuh
Musim pun mulai berganti
Waktu seakan tak peduli dan terus berjalan
Meninggalkan mereka yang terlelap dalam mimpi
Ya,ada suatu hari kan kusebut nama mu utuh
Dan aku yakin bahwa aku telah melupakan mu
Di surat, di buku harian dan percakapan sehari hari
Seperti dulu, nama mu belum bisa kusebut kini
Dari sekian ratus senja yang kucatat
Namun, pada suatu hari kan kusebut nama mu utuh
Musim pun mulai berganti
Waktu seakan tak peduli dan terus berjalan
Meninggalkan mereka yang terlelap dalam mimpi
Ya,ada suatu hari kan kusebut nama mu utuh
Dan aku yakin bahwa aku telah melupakan mu
Jumat, 03 Desember 2010
Logika memisahkan kita
Kita berdiri berdua dalam diam
Kesunyiaan pun meminta seribu tanya
Dimana keriangan kita dahulu?
Tawa tulus tanpa dibuat buat
Berlari mengejar layangan yang membawa harapan dan angan
Berbagi pengalaman yang memalukan menjadi lelucon
Dimana semua itu?
Ternyata dunia telah mengubah kita
Dunia telah merubah kita menjadi seseorang yang berbeda
Ketika kita lebih percaya pada logika
Melenyapkan tawa dan menghilangkan senyum
Kurindukan saat ketika kita masih berlari menyongsong
matahari sambil mengejar khayalan
Aku yang menganggap kalian gila
Aku hidup diantara manusia yang mengaku waras
Mereka meghakimi ku dengan sebutan gila
Padahal mereka tak sadar bahwa mereka lebih gila
Mereka bilang aku gila karena tidak berpakaian
Sedangkan tak ada yang menganggap mu gila
Padahal kamu berusaha tampil dengan baju seminimal mungkin
Kamu bilang aku gila karena selalu berjalan jalan
Dan tak ada yang menganggap mu gila
Ketika kamu berjalan menuju tempat hiburan malam
Kau anggap dirimu tidak gila
Dengan uang di tangan mu hasil rampasan dari rakyat
Lalu siapa yang orang gila?
Pengertian orang gila ku dengan mu ternyata berbeda
Kau anggap orang gila hanya orang yang tidak bisa berfikir waras
Sedangkan kau anggap apa dirimu?
Hei kamu yang melakukan yang sama gila nya dengan ku
Namun tak pernah sadar bahwa kamu sama gila nya seperti ku
Jadi kita semua lah yang gila
Aku yang menganggap kita semua gila
SELAMAT ULANG TAHUN
Tidur lah dengan lelap, hai kamu yang berulang tahun
Jangan hiraukan semua yang mengganggu tidur mu
Beristirahat lah dengan damai di ranjang mu
Lupakan semua yang meresahkan mu esok
Karena besok adalah hari istimewa mu
Bergerak lah perlahan hai sang waktu
Berhenti lah sejenak walau tuk sekali saja
Karena kali ini saya tidak boleh terlambat
Karena ada ucapan selamat ulang tahun yang harus sampai tepat waktu
Selamat ulang tahun saya ucapkan
Biarpun tak semahal berlian
Meskipun tidak sewangi bunga mawar
Dan tak seindah rangkaian puisi
Hanya kalimat sederhana yang merangkum semuanya
Dengan doa di setiap kata yang terucap
Haruskah meniup lilin ketika kamu berulang tahun?
Penting kah saling melempar kue yang tak termakan?
Perlu kah kita membiarkan diri berfoya foya?
Kadang hadiah terbaik datang dari sebuah pemahaman
Maka merenung lah sejenak di hari kelahiran mu
Kamu sudah bertambah dewasa sekarang
Jangan hiraukan semua yang mengganggu tidur mu
Beristirahat lah dengan damai di ranjang mu
Lupakan semua yang meresahkan mu esok
Karena besok adalah hari istimewa mu
Bergerak lah perlahan hai sang waktu
Berhenti lah sejenak walau tuk sekali saja
Karena kali ini saya tidak boleh terlambat
Karena ada ucapan selamat ulang tahun yang harus sampai tepat waktu
Selamat ulang tahun saya ucapkan
Biarpun tak semahal berlian
Meskipun tidak sewangi bunga mawar
Dan tak seindah rangkaian puisi
Hanya kalimat sederhana yang merangkum semuanya
Dengan doa di setiap kata yang terucap
Haruskah meniup lilin ketika kamu berulang tahun?
Penting kah saling melempar kue yang tak termakan?
Perlu kah kita membiarkan diri berfoya foya?
Kadang hadiah terbaik datang dari sebuah pemahaman
Maka merenung lah sejenak di hari kelahiran mu
Kamu sudah bertambah dewasa sekarang
Langganan:
Postingan (Atom)



