Rabu, 29 Desember 2010

Optimisme di tengah dunia yang sinis


Abis kekalahan indonesia yang TERHORMAT, gue refleks jadi mikir. Ternyata pesimisme selalu lebih dominan, seberapa keras pun gue berusaha untuk optimis. Terbukti dari gue, yang udah matiin tv dari menit 80, karena ga sanggup liat malaysia menang. Pesimis selalu lebih gampang dari optimis. Malaysia menang. Kentut.

Tapi yang mau gue omongin kali ini tentang optimisme dan pesimisme yang udah kayak jodoh, selalu ada di diri kita. Kenapa gue bilang pesimisme selalu lebih gampang dari optimis? Coba aja, lebih sering mana kita dapet, durian jatoh apa nasib sial? Lebih banyak orang yang tewas karena kecelakaan atau orang yang menang lotere Lebih banyak orang yang tewas karena bencana alam dibanding orang yang dapet nobel.

Tapi mereka yang selalu pesimis dengan pikiran, “gue-akan-ketabrak-mobil-hari-ini”, bakal tumbang setelah bangun pagi dan gak berani ngambil keputusan apapun, bahkan untuk sekedar sarapan. Mungkin, dari zaman dulu juga udah ditanamkan sikap optimisme. Jadi optimisme adalah mekanisme bertahan hidup, paling nggak dari segi mental. Untuk bertahan hidup di dunia yang sinis ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar