Lihat Bud, itu para wakil rakyat kita
Begitu semena mena antar sesama
Hanya demi sebuah singgasana
Bahkan rakyat mereka korbankan
Ini bangsa apa?
Ternyata di zaman yang bikin senewen ini
Tak ada lagi seorang pahlawan
Yang ada hanyalah pejabat korup
Dan kerumunan orang yang saling curiga
“Sorak sorak bergembira
Bergembira semua
Sudah bebas negeri kita
Untuk selama lamanya”
(Budi kecil bersenandung)
Tidak Bud, perjuangan ini belumlah usai
Aku tersenyum muram padanya
Inilah kita, bangsa di ambang petaka
Lawan kita masih sama, yaitu ketidakadilan
Tangan tidak percaya pada tubuh
Kaki tidak percaya pada tubuh
Kepala tidak percaya pada tubuh
Ah, ternyata mereka ingin berdiri sendiri sendiri
Jangan tanya tentang kesejahteraan mu, Bud
Mereka masih sibuk berperang melawan tikus tikus gemuk itu
Aku pun tak tahu kapanlah itu selesai
Bisa jadi akan berlangsung selama negara ini masih ada
Karena rakyatnya masih dapat ditertawakan orang pintar..
Sabtu, 29 Januari 2011
Teruntuk ayah
Ayah bekerja tiap hari menjual pikiran dan tenaga
Teruntuk sang anak, seorang yang kelak dibanggakan
Teruntuk anaknya, ia bisa menahan segala derita
Hingga lelah pun bosan datang padanya
Sepiring nasi sebagai imbalannya bekerja
Direlakan kepada anaknya
Ia sendiri menekan perut, menahan lapar
Makanlah, jangan banyak bertanya
Sang ayah berkata menatap sayang kepada anaknya
Si anak makan lahap, tanpa tahu pengorbanan sang ayah
Untuk para ayah yang sedang berusaha sebaik mungkin memenuhi kebutuhan anak nya. Kalian adalah pahlawan tanpa tanda jasa (guru sudah menjadi pahlawan berjasa dengan gaji besar).
Teruntuk sang anak, seorang yang kelak dibanggakan
Teruntuk anaknya, ia bisa menahan segala derita
Hingga lelah pun bosan datang padanya
Sepiring nasi sebagai imbalannya bekerja
Direlakan kepada anaknya
Ia sendiri menekan perut, menahan lapar
Makanlah, jangan banyak bertanya
Sang ayah berkata menatap sayang kepada anaknya
Si anak makan lahap, tanpa tahu pengorbanan sang ayah
Untuk para ayah yang sedang berusaha sebaik mungkin memenuhi kebutuhan anak nya. Kalian adalah pahlawan tanpa tanda jasa (guru sudah menjadi pahlawan berjasa dengan gaji besar).
Pagi di jalan kota
Pagi ku diisi dengan dengarkan orkes klakson ria
Berbaris panjang, tak jarang harus bersenggolan
Tiap pagiku dihabiskan dengan bergulat melawan waktu
Tak jarang, peraturan diabaikan demi kemenangan yang singkat
(Panasnya udara, panaskan jiwa
Sumpah serapah menguap di udara
Bangkitkan hati yang penat dan sumpek
Udara kotor bukan lagi sebuah keanehan
Pohon diseberang jalan, bukan lagi pohon
Karena mereka muak dengan polusi polusi mu
Pelangi enggan datang walaupun hujan turun)
Pagi ku diisi dengan belokan sigap para pengendara
Berbaris panjang, tak jarang harus berebut tempat
Tapi jika anda lihat ada anak anak disekitarnya, maka jangan heran
Mereka sedang bermain bersama dengan kendaraan yang sombong
Berbaris panjang, tak jarang harus bersenggolan
Tiap pagiku dihabiskan dengan bergulat melawan waktu
Tak jarang, peraturan diabaikan demi kemenangan yang singkat
(Panasnya udara, panaskan jiwa
Sumpah serapah menguap di udara
Bangkitkan hati yang penat dan sumpek
Udara kotor bukan lagi sebuah keanehan
Pohon diseberang jalan, bukan lagi pohon
Karena mereka muak dengan polusi polusi mu
Pelangi enggan datang walaupun hujan turun)
Pagi ku diisi dengan belokan sigap para pengendara
Berbaris panjang, tak jarang harus berebut tempat
Tapi jika anda lihat ada anak anak disekitarnya, maka jangan heran
Mereka sedang bermain bersama dengan kendaraan yang sombong
Jumat, 28 Januari 2011
Kaleng kecil dan seorang gadis
Kala itu malam terlalu dingin untuk diterobos
Kupaksakan langkah ku menentang angin malam yang sombong
Tak jauh, ku bertemu dengan gadis kecil berkaleng kecil
Terlihat murung, menatap jauh ke sebuah restoran amerika
Mencoba menghapus dukanya, ia lanjutkan bekerja
Disodorkan nya lagi kaleng kecil itu
Berharap ada sekeping koin jatuh ke kaleng nya
Koin kecil yang tak sebanding dengan tumpukan uang kertas mu
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang kausebut rumah
Ingin kuusir jauh jauh raut duka dari wajah mu
Seharusnya duniamu dipenuhi dengan tawa
Dunia mu bukan bagaimana mencari uang
Itu biar mereka yang urus
Belum saatnya kau diperkenalkan dengan kejam nya jalanan
Dan tempat bermain mu bukan di perempatan jalan raya
Semoga mereka mengerti...
Kupaksakan langkah ku menentang angin malam yang sombong
Tak jauh, ku bertemu dengan gadis kecil berkaleng kecil
Terlihat murung, menatap jauh ke sebuah restoran amerika
Mencoba menghapus dukanya, ia lanjutkan bekerja
Disodorkan nya lagi kaleng kecil itu
Berharap ada sekeping koin jatuh ke kaleng nya
Koin kecil yang tak sebanding dengan tumpukan uang kertas mu
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang kausebut rumah
Ingin kuusir jauh jauh raut duka dari wajah mu
Seharusnya duniamu dipenuhi dengan tawa
Dunia mu bukan bagaimana mencari uang
Itu biar mereka yang urus
Belum saatnya kau diperkenalkan dengan kejam nya jalanan
Dan tempat bermain mu bukan di perempatan jalan raya
Semoga mereka mengerti...
Rabu, 26 Januari 2011
Pemberontak, satukan lah kami
Dimana kah kau berada, hei pemberontak
Satukan kami, ingatkan kalo kami pernah bersatu
Kaum tertindas dari pinggiran kota kota
Lawan kita masih sama, yaitu ketidakadilan
Ingatkan kami ketika mereka bersama dulu
Turun ke jalan, tinggalkan bangku sekolah
Rapat dalam barisan tak ada yang saling meninggalkan
Tak ada yang bisa halangi kita melangkah
Reff:
Kami akan bergerak jika waktunya tiba
Ketika suara kami sudah mulai diabaikan
Ketika rakyat sudah tidak bisa menahan derita
Ketika hukum tak bisa mencari keadilan
Coda:
Segelintir orang menikmati hidup layak
Diatas tubuh orang orang yang tertindas
Negeri kita kaya tapi rakyat sengsara
Karena rakyat hanya bahan tertawaan orang pintar
Satukan kami, ingatkan kalo kami pernah bersatu
Kaum tertindas dari pinggiran kota kota
Lawan kita masih sama, yaitu ketidakadilan
Ingatkan kami ketika mereka bersama dulu
Turun ke jalan, tinggalkan bangku sekolah
Rapat dalam barisan tak ada yang saling meninggalkan
Tak ada yang bisa halangi kita melangkah
Reff:
Kami akan bergerak jika waktunya tiba
Ketika suara kami sudah mulai diabaikan
Ketika rakyat sudah tidak bisa menahan derita
Ketika hukum tak bisa mencari keadilan
Coda:
Segelintir orang menikmati hidup layak
Diatas tubuh orang orang yang tertindas
Negeri kita kaya tapi rakyat sengsara
Karena rakyat hanya bahan tertawaan orang pintar
Selasa, 25 Januari 2011
Multatuli
Kurang lebih tahun 1859, buku berjudul Max Haveelar ditulis oleh Multatuli. Kemudian buku itu diakui sebagai karya sastra yang bernilai dan banyak diperbicangkan oleh para kritisi dunia kesusastraan yang diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Yang mau gue sorot disini adalah, keberanian Multatuli untuk melawan ketidakadilan dan berani menentang pemerintahan dan membela rakyat kecil yang tidak berdaya. Padahal ga ada keuntungan nya untuk Multatuli kalo diliat dari sudut pandang orang orang pada tahun itu. Buat apa membela rakyat indonesia dan membahayakan keselamatan nya dan keluarganya waktu itu? Karena kebenaran.Karena kebenaran adalah sesuatu tuntutan mutlak yang harus dipenuhi dalam diri kita. Perasaan ikut bersedih ketika melihat penindasan terjadi di depan matanya itu yang bikin Multatuli nekat melawan pemerintahan. Multatuli pernah berkata :
"Ya, aku mau dibaca oleh negarawan-negarawan yang berkewajiban memperhatikan tanda tanda zaman; - oleh sastrawan sastrawan yang harus membaca buku itu yang begitu banyak di jelek jelek kan orang.., - oleh anggota anggota perwakilan rakyat yang harus mengetahui apa yang bergolak dalam kerajaan besar ini.
Sekarang korelasi nya sama zaman sekarang, tahun 2011. Berarti sudah hampir 152 tahun sejak zaman nya Multatuli. Tapi lihat kenyataan nya. Bentuk penjajahan yang telah berganti rupa tetap menuntut satu hal. Keadilan. Yang kita butuhkan adalah seseorang yang seperti Multatuli, berani mengungkapkan ketidakadilan dan menyadarkan para elite politik yang telah menggunakan hak nya secara tidak bertanggung jawab. Semoga..
Jumat, 21 Januari 2011
Presiden pun mengemis
Secara kasarnya, calon presiden dan wakil presiden harus mengemis kepada rakyat. Ya, mengemis. Bukan mengemis uang, tapi mengemis restu. Pengemisan suara dilakukan dengan cara kampanye, meminta simpati rakyat untuk memilih mereka. Untuk apa? Menurut gue, di proses itulah nanti kelihatan mutu seorang tokoh tersebut.
Buat mereka yang gak pernah tahu betapa susahnya mengalami jerih payah mengemis restu rakyat, ga pernah menghargai seorang presiden dan wakilnya. Walaupun entah didapat dengan cara yang baik atau tidak, itu urusan mereka. Mereka yang milih untuk golput berarti gak menghargai bobot suara warganegara. Golput dengan apapun alasan nya adalah sesuatu yang salah. Pemilu tahun lalu, ada 67 juta orang yang tidak menggunakan suaranya dengan benar. Jadi, 'wakil rakyat' kita hanya mewakilkan setengah dari pemilih totalnya. Dengan statistik diatas, gue jadi bertanya tanya kalaupun sekarang kinerja DPR dipertanyakan pun, masyarakat tetap memiliki andil besar yang menyebabkan terpilihnya anggota anggota DPR yang tidak kompeten.
Gue bukan nya mau pro pemerintahan. Gue juga bukan seorang kritikus, walaupun terkadang sinis dengan pemerintah. Tapi, kalau seandainya tujuan dibentuknya suatu negara itu tidak bisa tercapai - bahkan cenderung merugikan rakyat kecil - lebih baik bubarkan saja negara ini.
Sumber : http://rassukudalu.wordpress.com/2009/05/16/partai-baru-golput-2009-67-juta-suara/
Senin, 17 Januari 2011
Hakim
Tugas sedih seorang hakim adalah
Membangun keadilan di dunia
Yang dipenuhi lumpur dosa dan kesalahan
Tapi bahkan hakim bukanlah dewa
Undang undang bukan kitab kebenaran
Lalu pada siapa kita menuntut keadilan?
Hanya kepada tuhan
(jawaban ketika kita tak bisa menjawab semua pertanyaan)
Membangun keadilan di dunia
Yang dipenuhi lumpur dosa dan kesalahan
Tapi bahkan hakim bukanlah dewa
Undang undang bukan kitab kebenaran
Lalu pada siapa kita menuntut keadilan?
Hanya kepada tuhan
(jawaban ketika kita tak bisa menjawab semua pertanyaan)
Jumat, 14 Januari 2011
Suara alam yang diabaikan
Tak ada yang memahami hewan laut
Yang menggelepar di pantai
Air asin yang bercampur limbah polusi
Pembuang limbah itu tak bisa disalahkan
Mungkin ikan ikan iseng mati sendiri
Dan tak ada yang memahami
Suara pepohonan yang ditebang
Penebang liar itu tak bisa disalahkan
Mungkin pohon pohon itu iseng tumbang sendiri
Tapi mereka memang tidak bersalah
Karena di negeri ini benar dan salah
Ditentukan oleh jumlah nol pada uang setoran
Namun, alam tak bisa dibeli dengan uang
Apa yang telah diambil dari alam
Pada suatu hari yang mendung, akan menuntut balas
Yang menggelepar di pantai
Air asin yang bercampur limbah polusi
Pembuang limbah itu tak bisa disalahkan
Mungkin ikan ikan iseng mati sendiri
Dan tak ada yang memahami
Suara pepohonan yang ditebang
Penebang liar itu tak bisa disalahkan
Mungkin pohon pohon itu iseng tumbang sendiri
Tapi mereka memang tidak bersalah
Karena di negeri ini benar dan salah
Ditentukan oleh jumlah nol pada uang setoran
Namun, alam tak bisa dibeli dengan uang
Apa yang telah diambil dari alam
Pada suatu hari yang mendung, akan menuntut balas
Masygul
Nyanyikan saja dukamu
Kala sedih tak punya penawar
Ketika bicara pun tak di dengar
Tak ambil peduli orang orang itu padamu
Jangan ditangisi, tak boleh ada airmata
Tak ada yang boleh membuat kita lemah
Matahari masih selalu ada
Angin kadang sepoi membelai menghibur
Hujan pun terkadang turun menjenguk
Cukup satu pertanyaan
Maka ribuan kalimat yang sudah disusun rapih
Kan keluar dan meminta seribu jawab
Tak perlu berharap ada yang mendengar
Biarkan sunyi yang membawa kita pada pemahaman
Kala sedih tak punya penawar
Ketika bicara pun tak di dengar
Tak ambil peduli orang orang itu padamu
Jangan ditangisi, tak boleh ada airmata
Tak ada yang boleh membuat kita lemah
Matahari masih selalu ada
Angin kadang sepoi membelai menghibur
Hujan pun terkadang turun menjenguk
Cukup satu pertanyaan
Maka ribuan kalimat yang sudah disusun rapih
Kan keluar dan meminta seribu jawab
Tak perlu berharap ada yang mendengar
Biarkan sunyi yang membawa kita pada pemahaman
Senin, 10 Januari 2011
Hidup jadi seperti buku
Akhirnya
Pasrah akan hidup
Karena hidup jadi seperti buku
Yang telah didikte sang penulis
Seperti aktor malang yang berharap melebihi skenarionya
Mau tak mau harus mau tentu saja
Namun, ada bagian dimana
Kita dituntut untuk memilih
Bagian dimana sang penulis hanya memberikan pilihan
Alur cerita ada di pilihan kita sekarang
Pasrah akan hidup
Karena hidup jadi seperti buku
Yang telah didikte sang penulis
Seperti aktor malang yang berharap melebihi skenarionya
Mau tak mau harus mau tentu saja
Namun, ada bagian dimana
Kita dituntut untuk memilih
Bagian dimana sang penulis hanya memberikan pilihan
Alur cerita ada di pilihan kita sekarang
Pesta perayaan tahun baru
Di malam ini
Ada kembang api dan petasan
Pesta menyebar dimana mana
Meriah lah malam yang harusnya sepi ini
Kualihkan pandangan ke sudut terpencil
Yang tak dilihat atau malah mungkin sengaja diabaikan
Bahkan kaum wong cilik juga datang ke pesta itu
Namun bukan sebagai penikmat pesta
Tapi pengais sisa pesta tentu saja
Wajarkah ini?
Semua bahagia kecuali saya
Dengan rendah hati menyelinap pergi
Enggan pada setiap perayaan tahun baru
(Yang biasanya diturunkan kaum barat dan ditiru oleh banyak negara)
Ada kembang api dan petasan
Pesta menyebar dimana mana
Meriah lah malam yang harusnya sepi ini
Kualihkan pandangan ke sudut terpencil
Yang tak dilihat atau malah mungkin sengaja diabaikan
Bahkan kaum wong cilik juga datang ke pesta itu
Namun bukan sebagai penikmat pesta
Tapi pengais sisa pesta tentu saja
Wajarkah ini?
Semua bahagia kecuali saya
Dengan rendah hati menyelinap pergi
Enggan pada setiap perayaan tahun baru
(Yang biasanya diturunkan kaum barat dan ditiru oleh banyak negara)
Dipisahkan oleh penunjuk jalan
Sepertinya jalan kita
Takkan sampai pada pertemuan
Karena bagaimanapun berusaha mencari
Selalu ada rambu putar balik
Dan selalu ada rambu tak-boleh-lewati-jalan-ini
Kadang sempat terpikir
Kenapa tak kau terobos saja
Segala peraturan jalan yang tak masuk akal itu?
Tapi kamu bukan pembangkang
Jalanmu selalu ditentukan oleh peraturan
Bertahun tahun, berlalu selalu sama
Masihkan kah kita saling mencari?
Itu pun kita tak tahu
Di hari perpisahan dengan matahari
Suatu saat toh harus ditinggalkan
Kamu, dia, dan semua hal di bumi ini
Semua yang kita jalani di bumi
Hanya sekedar mimpi di alam fana nanti
(Kita bebas memilih mimpi yang akan dibawa ke alam fana)
Nah, mimpi itu hampir selesai sekarang
Kita hampir sampai di penghujung tua
Kamu sudah merangkum semua episode kehidupan
Matahari yang menemani mu dari awal cerita pun
Berpamitan pulang, pertanda malam sebentar lagi tiba
Kamu pun mengucapkan selamat tinggal
Pada segala apapun yang ada di sekitarmu
Tinta pena mu habis
Ah, belum sempatlah kutulis penutup buku itu!
(Lalu kamu tidur pulas sekali sambil memeluk buku yang kau tulisi.)
Kamu, dia, dan semua hal di bumi ini
Semua yang kita jalani di bumi
Hanya sekedar mimpi di alam fana nanti
(Kita bebas memilih mimpi yang akan dibawa ke alam fana)
Nah, mimpi itu hampir selesai sekarang
Kita hampir sampai di penghujung tua
Kamu sudah merangkum semua episode kehidupan
Matahari yang menemani mu dari awal cerita pun
Berpamitan pulang, pertanda malam sebentar lagi tiba
Kamu pun mengucapkan selamat tinggal
Pada segala apapun yang ada di sekitarmu
Tinta pena mu habis
Ah, belum sempatlah kutulis penutup buku itu!
(Lalu kamu tidur pulas sekali sambil memeluk buku yang kau tulisi.)
Rabu, 05 Januari 2011
Pada pahlawan
Pahlawan, kepadamu kami mengadu. Karena kau lebih bisa mengerti. Karena kita seumur.
Karena ketika tentara Belanda masuk kota sore itu, dan kau ketemu ibumu sebentar, dan berkata malam itu kau mau menginap di rumah Totok, tidak di asrama, ibumu berkata: "Besok kan ulangtahunmu yang ke-18." Kau cuma ketawa, enggan pada setiap perayaan ulang tahun - kebiasaan Belanda yang "diturunkan kepada kelas priayi penjilat" itu.Lalu kau pun pergi. Dengan granat di saku. Dan ketika menjelang dini hari rumah yang dijadikan markas musuh itu bergetar oleh ledakan, dan para penduduk yang cemas tiba tiba kembali punya harapan bahwa Belanda tak akan bisa selama-lamanya di sini, ibumu masih belum tahu di mana kau. Cuma Totok yang tahu."Itu pasti Adi," begitu ia berbisik. Ia mendengar letusan granat itu, lalu tembakan gencar itu, lalu sepi itu.
Esoknya tentara Belanda menemukan tubuhmu di dekat balok kayu. Topi bajamu berdarah, mulutmu menggigit sepotong merah putih. Bersama mayat seorang sersan dan dua orang prajurit yang kau tewaskan malam itu, jenazahmu dibakar."Anjing Sukarno itu berani sekali, zeg, masih muda," guman letnan Otten kepada seorang kenalannya kemudian.
![]() |
Ia benar: kau berani, kau masih muda. Tapi kau bukan "anjing Sukarno". Kau anjing diburu dari pengalaman pahit sebuah bangsa. Kau peran setia dari seuah kettapan hati untuk suatu zaman yang baru. Waktu kau dengar pasukan musuh berhasil masuk dari selatan, dan kota kecil itu menjadi senyap, kau menangis - dengan rasa perlu berkorban yang mungkin tak bisa kau terangkan sendiri
Ibumu terhisak-hisak payah malam itu, setelah Totok datang dan bercerita apa yang sebenarnya yang terjadi. "Siapa yang menyuruhnya ...... siapa yang menyuruhnya ....." Bapakmu cuma diam, tahu bahwa tak ada siapapun yang menyuruhmu. Mungkin sejarah yang menyuruhmu.
Hujan jatuh terlampau pagi barangkali, seperti hendak dikatakan dalam cerita Nugroho Notosutanto dalam Hujan Kepagian, tentang mereka yang bertempur dan tewas untuk tanahairnya, dalam usia begitu muda. Hujan jatuh terlalu pagi mungkin, karena cuaca terlalu buruk. Tapi tak banyak orang tahu betapa cuaca bisa jadi buruk.
Letnan Otten juga tidak tahu bahwa anak-anak muda bisa nangis, bisa marah, bisa terluka atau lebih dari itu - bukan karena soal soal biasa. Mereka demikian karena melihat sebuah tanaair yang mereka cemaskan akan tenggelam - sementara tak ada lagi tanahair mereka yang lain. Andries Otten mengira kau dan kawan-kawan-mu jadi api karena dikipas orang. Ia lupa anak muda bisa cepat matang oleh zaman yang telah lanjut, ketika sebuah era akan berakhir.
Memang tak selalu orang tahu. Tapi kau telah merasakan asinnya laut lewat gelombang, menjelang badai. Ternyata benar juga kata sebuah lagu "Kita tak perlu juru cuaca untuk menebak ke arah mana angin pergi"
You don't need a weatherman to know whch way the wind blows - Bob Dylan
Dikutip perkata nya dari buku Catatan Pinggir oleh Goenawan Mohamad, 19 November 1977. Kenapa gue kutip cerita ini? Karena dengan harapan, mudah mudahan anak anak muda kayak kita ini inget, kalo masih banyak pahlawan tanpa nama yang berjuang buat negeri ini. Kita juga muda, dan kita juga harus berjuang dengan cara belajar dan berkreasi. Semoga cerita ini bisa membangkitkan rasa nasionalisme kita, Salam merdeka!!
Senin, 03 Januari 2011
Menulislah agar dipahami
Hari ini, gue baca quotes yang inspirasional banget. Begini kira kira:
"Menulislah agar dipahami, berbicaralah agar didengar, dan membacalah agar menjadi besar."
Lawrence Clark Powell ,(1906–2001), pustakawan, penulis, dan kritikus Amerika Serikat.
Setelah gue baca quote singkat itu, gue langsung inget alesan gue bikin blog ini. Menulislah agar dipahami. Kalimat sederhana itu bikin gue semangat terus untuk berkarya di blog sederhana gue ini. Terlepas ada yang baca atau enggak, itu belakangan. Kalaupun gak ada yang bisa memahami gue, paling nggak gue masih memahami diri gue sendiri.
Semua orang punya krisis eksistensi nya sendiri. Mencari jati diri gitu maksudnya. Siapa sih sebenernya gue? Apa yang membedakan gue dari orang kebanyakan? Nah, blog ini nanti bisa kasih tau siapa gue. Setiawan guntarto adalah seorang idealis yang menentang segala bentuk kapitalisme, dengan cara sebisa mungkin menjauhi segala jenis produk luar negeri dan menggunakan produk dalam negeri. Semoga setitik idealisme sederhana ini bisa bertahan dimana pun gue berada sampai tua nanti..
"Menulislah agar dipahami, berbicaralah agar didengar, dan membacalah agar menjadi besar."
Lawrence Clark Powell ,(1906–2001), pustakawan, penulis, dan kritikus Amerika Serikat.
Setelah gue baca quote singkat itu, gue langsung inget alesan gue bikin blog ini. Menulislah agar dipahami. Kalimat sederhana itu bikin gue semangat terus untuk berkarya di blog sederhana gue ini. Terlepas ada yang baca atau enggak, itu belakangan. Kalaupun gak ada yang bisa memahami gue, paling nggak gue masih memahami diri gue sendiri.
Semua orang punya krisis eksistensi nya sendiri. Mencari jati diri gitu maksudnya. Siapa sih sebenernya gue? Apa yang membedakan gue dari orang kebanyakan? Nah, blog ini nanti bisa kasih tau siapa gue. Setiawan guntarto adalah seorang idealis yang menentang segala bentuk kapitalisme, dengan cara sebisa mungkin menjauhi segala jenis produk luar negeri dan menggunakan produk dalam negeri. Semoga setitik idealisme sederhana ini bisa bertahan dimana pun gue berada sampai tua nanti..
Sabtu, 01 Januari 2011
'Pesolek' dengan jas berdasi
Untuk para ‘pesolek’ negeri ini
Dengan setelan jas mahal berdiri angkuh
Terlihat gagah tapi dengan make up
Cocok dengan topeng di muka
“Lihat, lihat itu mereka datang!”
Mereka datang, berarti rakyat sedang senang
Tapi rakyat selalu bersusah sendirian
Bahkan musibah di negeri nya sendiri
Bukan alasan mereka untuk tidak bersenang senang
”Ayo kita ke negeri orang lain yang sedang senang!”
Namun, topeng itu tak bertahan selama nya
Sudah terlalu banyak yang harus disembunyikan
Make up luntur, pertanda kebohongan terungkap
Berguru dari kawan se profesi nya
Ia hendak beli topeng yang lebih besar
Topeng baru yang dibeli di etalase toko 'hukum'
Topeng yang lebih besar sedang diusahakan
Berikut dengan banyak riasan make up disana sini
Yang penting adalah citra, bukan kinerja
Seperti tong kosong yang nyaring bunyi nya saja
(Tapi topeng tidak bisa kita pakai waktu kita tidur nanti. Akan ada waktu dimana mereka lelah memakai topeng, dan memperlihatkan wajah aslinya)
Dengan setelan jas mahal berdiri angkuh
Terlihat gagah tapi dengan make up
Cocok dengan topeng di muka
“Lihat, lihat itu mereka datang!”
Mereka datang, berarti rakyat sedang senang
Tapi rakyat selalu bersusah sendirian
Bahkan musibah di negeri nya sendiri
Bukan alasan mereka untuk tidak bersenang senang
”Ayo kita ke negeri orang lain yang sedang senang!”
Namun, topeng itu tak bertahan selama nya
Sudah terlalu banyak yang harus disembunyikan
Make up luntur, pertanda kebohongan terungkap
Berguru dari kawan se profesi nya
Ia hendak beli topeng yang lebih besar
Topeng baru yang dibeli di etalase toko 'hukum'
Topeng yang lebih besar sedang diusahakan
Berikut dengan banyak riasan make up disana sini
Yang penting adalah citra, bukan kinerja
Seperti tong kosong yang nyaring bunyi nya saja
(Tapi topeng tidak bisa kita pakai waktu kita tidur nanti. Akan ada waktu dimana mereka lelah memakai topeng, dan memperlihatkan wajah aslinya)
Langganan:
Postingan (Atom)







