Jumat, 11 Februari 2011

Diary of resistances 2

Saya merasa gelisah. Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Ini bukan tentang standar nilai akademi yang harus dicapai, tapi tentang nasib nasib saudara saudara kita yang dimiskinkan oleh pemerintah. Hari ini, saya menonton sebuah film yang mungkin akan menginspirasi saya. Judulnya adalah rindu purnama. Menceritakan bagaimana lika liku kehidupan para anak anak jalanan dalam menghadapi kerasnya kehidupan yang mereka jalani. Benar benar film yang layak ditonton dewasa ini. Hal ini berbanding terbalik dengan acara acara televisi yang kian hancur moralnya. Benar benar ironi.

Sebenarnya hal yang paling saya risaukan sekarang ini adalah, kemana perginya kita sebagai generasi muda bangsa ini? Apakah cuma saya sendiri yang memikirkan nasib nasib kaum yang terpinggirkan? Belakangan ini saya sibuk mencari teman yang bisa diajak berjuang bersama untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Dan yang saya temukan adalah mereka yang masih saja membicarakan cinta yang lama lama menjadi sebuah cerita yang usang. Bukan nya saya sinis terhadap cinta. Karena masih banyak hal yang lebih penting dari sekedar cinta. Seharusnya kita malu kepada anak anak yang bahkan tak sempat merisaukan masalah yang kita hadapi. Malu. Sangat.

Yang mereka butuhkan bukanlah uang. Tetapi sesuatu yang mungkin akan mereka pergunakan untuk mencari uang. Ada pepatah yang mengatakan,

"Give a man a fish and you feed him for a day. Teach him how to fish and you feed him for a lifetime." - Lao Tzu

Menurut saya, pepatah ini mengandung kebenaran. Dan ini pula yang ingin saya berikan kepada mereka yang membutuhkan. Atau mungkin lebih tepatnya kepada generasi generasi muda selanjutnya, agar mereka juga punya kesempatan untuk membangun negeri ini. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar