Sabtu, 09 April 2011

Karena rakyat dibiarkan berjuang sendiri


Semalam aku lihat maut mengintai
Di bawah kolong jembatan, rumah bagi yang tak berpunya
Maut mengintai perlahan memandangi mata yang lelah
Mata mereka berdua beradu pandang, lalu si anak berbisik :

"Bolehkah aku menemui ibuku sebentar? Aku tahu ibu tidak memperbolehkan ku pulang sebelum membawa uang, tapi aku ingin melihat ibu ku untuk yang terakhir kalinya"


Sang maut menggelengkan kepala
Mirip seperti eksekutor yang tak punya hati nurani
Nyaris tanpa harapan, si anak mengaduh sendiri
Namun orang orang di sekitarnya tak ambil peduli


Semalam juga aku lihat maut melintas
Diantara rumah rumah kumuh yang tertiup angin
Seorangbayi kecil kurang gizi menangis
Karena ia melihat sang maut mondar mandir
Amboi! Si bayi tersenyum, rupanya ia menangis bahagia
Karena terbebas dari jerat dunia yang memuakkan
Sang ibu tergeletak disamping nya dengan segelas racun
Sementara sang ayah pergi mencari nafkah yang tertahan
Di kantong mereka yang berjas dan berdasi



Tapi bahkan di negeri yang sederhana ini
Gedung bertingkat dibangun, mobil mewah menjadi rebutan
Yang kaya makin kaya, yang miskin pun selamanya miskin
Tak ubahnya kanibal yang memangsa sesama saudara

Di hari yang kelam ini
Sang maut sepertinya harus lembur
Karena wakil wakil rakyat makin tidak peduli
Karena rakyat dibiarkan berjuang sendiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar